Menjadi Manusia yang Utuh

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemui orang-orang yang memiliki sikap-sikap tidak etis, yang cenderung tidak pantas untuk diterapkan dalam interaksi hidup berdampingan dengan manusia lainnya. Kita perlu menyadari bahwa perilaku etis (termasuk di dalamnya sikap sopan-santun, saling menghargai, toleransi) perlu diterapkan untuk menciptakan suasana hidup yang harmonis, selaras, dan damai, baik secara perilaku yang tampak, maupun dalam perasaan jiwa.

Sikap etis tidak muncul begitu saja pada diri seseorang. Sikap etis yang merupakan sebuah sikap mental (juga sikap mental lainnya, seperti malas, optimis, tulus), muncul dan berawal dari kebiasaan. Sikap mental yang positif cenderung lebih sulit untuk dipraktikkan. Hal ini karena mempraktikkan sikap mental yang positif pada dasarnya berarti melawan kecenderungan tiga racun (tiga kecenderungan perasaan jiwa yang buruk) yang dominan di dalam diri, yaitu keserahakan, kemarahan, dan kebodohan.

Manusia masa akhir dharma pada umumnya sudah merasa terlalu biasa dengan kondisi perputaran empat dunia buruk (perasaan jiwa neraka, kebinatangan, kelaparan, kemarahan) di dalam dirinya, bahkan tanpa disadari sudah menghasilkan sebuah “kenyamanan” tersendiri. Seperti perumpamaan orang yang tinggal di pemukiman kumuh, sudah biasa dengan lingkungan tersebut, sehingga ketika diajak untuk pindah ke rumah susun di tengah kota yang higienis, malah merasa tidak nyaman. Selain itu, kebiasaan jorok yang telah tertanam sekian lama pada dirinya akan sulit untuk diubah tanpa pengertian yang benar atas kebersihan dan usaha-usaha untuk memulai hidup yang bersih.

Untuk keluar dari kebiasaan ini butuh niat dan kemauan yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri. Untuk memunculkan niat dan kemauan ini, pertama-tama kita harus menyadari, apa pentingnya menjaga sikap? Apa pentingnya menghargai orang lain?

Manusia adalah makhluk hidup yang istimewa karena memiliki akal-budi yang membedakannya dari dua golongan utama makhluk lainnya, yaitu binatang dan tumbuhan. Walau secara alamiah manusia memiliki keunggulan dibandingkan binatang, namun manusia memiliki sifat dasar kebinatangan dalam jiwanya. Itulah sebabnya di dalam perputaran sepuluh dunia perasaan jiwa, ada kalanya pergerakan jiwa manusia berada dalam dunia kebinatangan, bergerak atas dasar insting naluriah binatang, seperti takut pada pihak yang lebih dominan, intimidatif terhadap pihak yang kurang berdaya dari dirinya, serta tidak mengenal konteks.

Manusia memiliki modal dasar sebagai makhluk yang lebih unggul. Hal inilah yang akhirnya menempatkan manusia pada posisi subyek utama di dalam pergerakan kehidupan di dunia, atau secara lebih luas pada pergerakan alam semesta. Namun demikian, belum semua manusia menyadari hal ini. Dalam keseharian, kita masih sering menemui manusia yang hidupnya belum manusiawi. Manusia yang belum mampu menjadi manusia seutuhnya.

Tolak ukur manusia yang seutuhnya bukanlah dari segi materi atau kekuasaan. Manusia yang seutuhnya adalah manusia yang mampu menerapkan nilai-nilai kebaikan yang manusiawi di dalam kehidupannya secara konsisten. Ada anggapan bahwa seseorang dengan harta yang melimpah dan berkuasa telah menjadi manusia seutuhnya, tanpa menilik lebih jauh proses bagaimana orang tersebut mencapai kondisi tersebut, atau perilakunya terhadap lingkungan sekitarnya.

Sebagai perumpamaan, seorang pengusaha kaya yang juga menempati posisi strategis dalam politik, ternyata mendulang keuntungan dari penggunaan bahan baku yang murah namun tidak ramah lingkungan. Gaji karyawan pun dibayar di bawah standar umum, karena masyarakat sekitar dianggap tidak tahu mengenai standar kelayakan, sehingga ditentukan seenaknya. Belum lagi sistem kontrak putus-sambung yang merugikan karyawan. Posisi strategis dalam politik digunakan untuk menyiasati pembelian lahan hutan lindung yang sesungguhnya tidak diperjualbelikan. Dalam contoh ini, cara-cara yang ditempuh si pengusaha dalam memperoleh kekayaannya, bukanlah cara-cara yang etis, tidak mengandung nilai kebaikan di dalam cara-cara pencapaiannya.

Menjadi manusia yang utuh dengan Buddha Dharma

Keutuhan manusia ini diperoleh melalui sebuah proses interaksi mutualisme dengan manusia lainnya, dengan alam semesta, dan dengan dirinya sendiri. Ketika dalam kondisi utuh, manusia dapat memunculkan potensi terbaiknya sebagai manusia dalam bentuk kesadaran Buddha. Dengan demikian, menciptakan keutuhan kita sebagai manusia adalah bagian dari perjalanan yang perlu dilewati dalam mewujudkan kebuddhaan.

Agama kita mengajarkan bahwa tujuan hidup kita sebagai manusia yang lahir pada masa akhir dharma adalah mewujudkan kesadaran Buddha dalam hidup kali ini dan berperan aktif dalam penyebarluasan dharma. Bagaimana kita dapat mewujudkan hal ini jika kita sendiri belum bisa menjadi manusia yang mampu menerapkan nilai-nilai kemanusiaan di dalam interaksi dengan orang lain, alam semesta, dan dirinya sendiri?

Sekarang, kita yang memiliki karma baik yang begitu besar sehingga berada dalam susunan NSI, dapat bertemu dengan ajaran Buddha Niciren (Saddharma Pundarika Sutra), Gohonzon dan Nammyohorengekyo, pada dasarnya sudah memiliki sumber daya utama untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Kita pun sudah berada dalam jalan menuju kebuddhaan.

Pemanfaatan sumber daya yang begitu berharga ini sepenuhnya berada di tangan kita, sejauh mana kita bisa mengolahnya agar memberikan manfaat terbaik bagi hidup kita. Diperlukan sikap percaya, tulus, dan sungguh hati di dalam melaksanakan pertapaan ini. Sikap-sikap mental yang positif ini akan membentuk kepribadian diri kita yang tercermin dari sikap dan perilaku sehari-hari. Orang-orang dengan hati kepercayaan yang tulus dan sesuai dengan ajaran Buddha Niciren, pasti adalah orang-orang yang mampu menghargai orang lain dan bersikap secara pantas dalam interaksi dengan manusia lainnya. Dari hati kepercayaan yang sungguh hati seperti ini, akan memunculkan kebijaksanaan atau prajna dalam bersikap yang membangun dirinya dan orang lain secara positif.

Keberlangsungan hidup dunia hingga detik ini, adalah karena kemampuan manusia untuk menjaga keselarasan hubungan dengan manusia, lingkungan alam, dan dirinya sendiri. Pada dasarnya, keselarasan dan kedamaian hidup adalah syarat yang diperlukan manusia agar dapat berkreasi, menciptakan hal-hal baru yang berguna. Di sisi lain, kondisi konflik menjauhkan manusia dari kreativitas. Selaras berarti konstruktif, dan konflik berarti destruktif. Dalam pengertian ini, sikap kita untuk dapat menghormati dan menghargai orang lain, pada dasarnya merupakan langkah-langkah yang perlu ditempuh agar kita dapat terus berkembang secara positif dan membangun. §

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s