Memaknai Kehidupan dalam Buddha Dharma

Memahami perihal makna kematian akan membantu kita untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan terarah. Seringkali manusia baru menyadari makna atau arti hidupnya justru ketika menjelang ajalnya. Seorang pangeran bernama Siddharta dari sebuah suku bernama Sakya di India, yang hidup pada sekitar 2500 tahun yang lalu, sudah mempunyai pemikiran mengenai hal ini, dan melihat bahwa manusia senantiasa berputar-putar dalam penderitaan semasa hidup, yang kita kenal dengan empat fase penderitaan, yaitu kelahiran, usia tua, sakit, dan mati. Siddharta terdorong untuk menemukan jalan keluar agar manusia tidak lagi terkungkung oleh penderitaan semasa hidup.

Keputusan Pangeran Sidharta—Buddha Sakyamuni untuk meninggalkan istana dan tahtanya untuk merenungkan dan menemukan jawaban atas pemikirannya itu membawa dirinya pada satu pencerahan pemikiran mengenai kehidupan dan hukum pokok hidup yang mendasari pergerakan seluruh kehidupan alam semesta (alam semesta besar—makro kosmos) dan batin manusia (alam semesta kecil—mikro kosmos).

Sakyamuni membabarkan ajaran Buddha dalam beberapa fase melalui banyak sutra-sutra yang diwarisi oleh para pengikutnya. Namun dari kesemua ajaran Buddha, intisari Buddhisme terdapat pada Sutra Bunga Teratai, yang dengan gamblang menjelaskan potensi Kebuddhaan / sifat Buddha yang secara alamiah atau hakiki (inheren) berada di dalam setiap diri manusia.

Memiliki esensi ajaran yang begitu agung dan luhur, tak sulit bagi Buddhisme untuk berkembang dan menyebar ke berbagai belahan bumi. Bermula dari India, ke arah selatan, Buddhisme berkembang ke Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Kamboja, sampai ke Indonesia (terbukti dari peninggalan sejarah candi-candi Buddha di Indonesia, seperti Borobudur). Ke utara, Buddhisme melewati Asia Tengah, Tiongkok, Korea, dan Jepang. Di Jepang inilah, pada abad ke-13, Nichiren lahir dan mempelajari Buddhisme dengan tekun dan mendalam. Secara mendasar, Nichiren mengajarkan bahwa kesadaran Buddha yang dicapai Sakyamuni merupakan sebuah Hukum Universal, Nammyohorengekyo. Lebih lanjut, Nichiren mendalami ajaran dan filsafat guru-guru filsuf seperti Nagarjuna dan Vashubandu dari India, serta Tientai dari Tiongkok.

Buddhisme muncul di dunia, tak lain dan tak bukan adalah untuk membuka jalan kepada seluruh umat manusia pada perubahan nasib menjadi lebih baik dan menjalani hidup yang bahagia secara wajar dan apa adanya. Buddhisme Nichiren yang merupakan praktik Sutra Bunga Teratai, mempunyai kekuatan yang dapat memberdayakan diri kita masing-masing. Ajarannya menyoroti seluruh aspek kehidupan dan menembus hingga ke inti hidup itu sendiri. Sekali lagi, ajaran Nichiren menekankan pada kemuliaan hidup manusia (sifat kebuddhaan) yang memang ada di dalam diri manusia.

Kesulitan muncul bukanlah untuk ditiadakan. Buddhisme Nichiren mengajarkan, bahwa kesulitan yang kita hadapi, hendaknya dapat kita hadapi dengan mengembangkan potensi dan kekuatan dalam diri kita. Ketika kita mampu menghadapi kesulitan tersebut dengan penuh keberdayaan, kita tidak hanya akan mengatasinya, namun kesulitan tersebut niscaya menjadi penyebab kebahagiaan.

Buddhisme mengajarkan manusia untuk membangun kekuatan dan kearifan diri dari dalam, alih-alih berupaya untuk meniadakan kesulitan. Akar pokok timbulnya kesulitan perlu dipahami sebagai akibat dari proses hukum karma yang berjalan secara wajar dalam diri sendiri. Untuk itu, upaya yang perlu dilakukan untuk mengatasi kesulitan adalah dengan cara mengembangkan potensi diri, memunculkan kekuatan dan kearifan dari dalam diri.

Buddhisme menjelaskan perihal empat penderitaan universal, yaitu proses kelahiran, menjadi tua, mengalami sakit, dan mati. Namun Buddha menyadari, bahwa keempat proses kehidupan tersebut bukanlah sumber ketidakbahagiaan manusia. Sumber ketidakbahagiaan terletak pada diri kita sendiri, dan terjadinya ketidakbahagiaan adalah karena kita tidak memiliki cukup kekuatan dan kearifan untuk bangkit dari ketidakbahagiaan tersebut.

Buddhisme mengajarkan, bahwa di dalam diri manusia terdapat dua inti kecenderungan pokok jiwa; yaitu kesesatan pokok jiwa dan kesadaran pokok jiwa. Kesesatan dan kesadaran bagai dua sisi dari sekeping mata uang yang terdapat di dalam jiwa. Pada dasarnya, keduanya memiliki potensi yang sama untuk muncul pada diri seseorang, yang tercermin pada sikap perilakunya, pikirannya, dan tutur katanya. Kesadaran bersifat positif, membangun atau produktif, sedangkan kesesatan bersifat negatif, merusak atau kontra produktif.

Kedua kecenderungan pokok jiwa ini memiliki potensi yang tak terbatas, yang akan berkembang sesuai pengalaman saat demi saat yang sudah berlangsung sejak masa lampau yang begitu jauh, hingga masa depan yang tak terukur (perihal hakekat waktu dan tiga masa akan dijelaskan lebih lanjut kemudian). Yang perlu kita lakukan tentunya, adalah mengembangkan atau memunculkan sisi kesadaran kita, yang dengan sendirinya akan menenggelamkan sisi kesesatan kita. Sisi kesadaran pokok jiwa inilah yang harus kita kembangkan agar menjadi dasar atau landasan dari pergerakan perasaan jiwa kita. Di pertengahan materi kita akan belajar mengenai sepuluh Dunia perasaan jiwa yang saling melengkapi. Di sana kita akan dijelaskan lebih lanjut perihal landasan kesadaran jiwa ini.

Doktrin Awal Sakyamuni

Perihal melepaskan diri dari penderitaan hidup-mati, Sakyamuni pada masa awal pembabarannya menyampaikan perihal Empat Kebenaran Mulia mengenai penderitaan, dan Delapan Jalan Utama sebagai panduan untuk mengatasi penderitaan tersebut. Doktrin awal ini terutama ditujukan pada murid-murid Sakyamuni yang telah meninggalkan kehidupan sekuler dan sepenuhnya menjalani praktik Buddhisme.

  1. Kebenaran tentang Penderitaan

Menjelaskan bahwa seluruh keberadaan atau eksistensi yang ada di dalam kehidupan ini membawa penderitaan.

  1. Kebenaran tentang Asal Penderitaan

Menjelaskan bahwa sumber penderitaan adalah keinginan duniawi yang mementingkan diri.

  1. Kebenaran tentang Lenyapnya Penderitaan

Menjelaskan bahwa memadamkan keinginan yang mementingkan diri sendiri akan mengakhiri penderitaan.

  1. Kebenaran tentang Jalan Menuju Lenyapnya Penderitaan

Menjelaskan bahwa terdapat sebuah jalan untuk melenyapkan penderitaan tersebut, yaitu dengan cara mengikuti panduan Delapan Jalan Utama, sebagai berikut:

1. Pengertian Benar
Pengertian yang didasarkan pada keempat kebenaran mulia dan pemahaman ajaran Buddha secara tepat.

2. Pikiran Benar

3. Ucapan Benar

4. Perbuatan Benar

5. Penghidupan Benar
Penghidupan yang didasarkan pada pemikiran, ucapan, dan perbuatan yang sarat akan nilai-nilai kebaikan.

6. Usaha Benar
Usaha dalam mempelajari ajaran / dharma secara tepat.

7. Perhatian Benar

8. Konsentrasi Benar

Doktrin awal Sakyamuni tersebut mungkin dapat diterapkan dan bermanfaat bagi para biksu / biksuni, tetapi bagi umat awam yang masih perlu terlibat dengan berbagai aktivitas kehidupan, cara untuk melepaskan diri dari penderitaan dalam doktrin awal itu terasa sulit untuk diterapkan. Oleh sebab itu dalam babak berikutnya dari pembabaran ajaran Sakyamuni, dijelaskan perihal tanah suci, di mana jika manusia pada hidup kali ini dapat menjalankan ajaran-ajarannya, bisa terlahir kembali dengan terbebas dari semua penderitaan.

Penjelasan mengenai nirwana dan tanah suci yang dimaksud sesungguhnya merupakan instrumen kiasan Sakyamuni dalam memberikan penjelasan dan pemahaman kepada penganutnya pada masa itu. Niciren menjelaskan, bahwa pembabaran ajaran Sakyamuni dapat digolongkan menjadi tiga babak waktu, yaitu:

  1. Masa Saddharma, adalah masa pembabaran dharma dari Sakyamuni hidup, sampai 500 tahun setelah kemoksyaannya.
  2. Masa Pratirupadharma, adalah masa pembabaran dharma dari setelah 500 tahun kemoksyaan Sakyamuni, sampai 2000 tahun setelahnya.
  3. Masa Akhir Dharma, adalah masa pembabaran dharma dari setelah 2000 tahun kemoksyaan Sakyamuni, sampai kurun waktu yang tak terhingga.

Pada masa Saddharma, jiwa umat manusia masih mampu memahami ajaran Buddhisme dalam tataran perumpamaan. Oleh karena itu, penjelasan mengenai nirwana dan tanah suci saja mampu membawa umat manusia kepada tingkat kesadaran Buddha.

Namun seiring berjalannya waktu, perkembangan jaman, ilmu pengetahuan, dan teknologi, perasaan jiwa manusia semakin keruh oleh sifat yang buruk. Penjelasan kiasan tidak mampu diterima begitu saja oleh manusia yang sudah semakin memahami ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sekarang, yang merupakan Masa Akhir Dharma, ajaran Buddha yang mampu menuntun umat manusia saat ini ke jalan yang tercerahkan adalah inti hakekat dari pembabaran dharma oleh Sakyamuni, yang terdapat dalam Sutra Bunga Teratai (Saddharma Pundarika Sutra). Kita harus secara simultan mampu menerapkan ajaran Buddha untuk menyempurnakan kesadaran diri kita, serta membimbing masyarakat menuju kesempurnaan itu.

Di dalam Sutra Bunga Teratai inilah dijelaskan makna sesungguhnya nirwana dan tanah suci yang ada pada sutra-sutra pendahulunya. Dijelaskan bahwa proses kelahiran dan kematian adalah siklus wajar yang tidak perlu dihentikan untuk dapat memasuki nirwana, sedangkan nirwana itu sendiri bukanlah suatu tempat tertentu, melainkan sebuah keadaan jiwa yang tercerahkan, di mana ketika kita menjalani siklus kelahiran dan kematian, kita menyadari hakekat dari siklus tersebut sehingga kita tidak lagi merasakannya sebagai penderitaan.

Dijelaskan pula bahwa kita tidak perlu melenyapkan segala rasa keinginan kita untuk dapat memasuki nirwana, karena kita secara alamiah memiliki kekuatan untuk mengubah rasa keinginan tersebut justru menjadi penyebab kebahagiaan, menjadi sebab munculnya keadaan jiwa kita yang tercerahkan.

Bagaimana menjelaskan bahwa diri manusia secara alamiah memiliki potensi untuk mengubah hawa nafsu menjadi kesadaran atau potensi untuk membangkitkan kebahagiaan? Seorang mahaguru Tiongkok yang mendalami Buddhisme terutama ajaran Sutra Bunga Teratai, menganalogikan pemahaman tersebut sebagai berikut. Sebuah persik yang pahit, ketika direndam dengan air jeruk nipis selama beberapa saat, rasanya akan berubah menjadi manis. Mengapa demikian? Pada dasarnya, rasa manis dan rasa pahit keduanya ada pada buah persik tersebut. Awalnya, rasa dominannya adalah pahit. Namun dengan bantuan katalisator air jeruk nipis, rasa pahit yang terkandung oleh buah persik diserap keluar oleh air jeruk nipis, sehingga rasa manis yang tadinya tertutup oleh rasa pahit, kini terasa.

Pada masa Akhir Dharma, kondisi jiwa manusia pada umumnya penuh dengan kekeruhan dan kesesatan jiwa, seperti keserakahan, kemarahan, dan kebodohan. Sifat-sifat ini bukannya muncul begitu saja pada kehidupan kali ini, melainkan juga merupakan hasil tumpukan karma perbuatan yang telah kita lakukan di masa lampau, sehingga termanifestasi dalam diri kita saat ini.

Buddhisme ibarat katalisator pada buah persik tadi, yang mampu menenggelamkan kesesatan jiwa sehingga memunculkan kesadaran jiwa kita. Perumpamaan ini juga mengajarkan bahwa sesungguhnya Hukum Buddha selaras dengan Hukum Alam, semuanya berlangsung atas dasar kewajaran.

Dalam Saddharma Pundarika Sutra, Buddhisme sudah memasuki pemahaman bahwa keinginan dan hawa nafsu ada bukan untuk disangkal atau ditiadakan jika kita ingin mewujudkan kebahagiaan, justru dengan hawa nafsu dan keinginan yang ada, kita didorong untuk memberdayakan diri kita untuk mengubahnya menjadi pencerahan.

Sepuluh Dunia

Sepuluh Dunia adalah konsep Buddhisme Mahayana yang menjelaskan secara mendasar tingkatan perasaan jiwa manusia. Di permukaan, sekilas konsep ini seperti menjelaskan suatu kondisi atau tempat (dunia lain) yang akan kita datangi setelah kematian. Namun hal tersebut tidaklah tepat. ”Dunia” di sini menggambarkan perasaan jiwa manusia, yang tak lain berada secara manunggal pada diri kita. Perasaan jiwa dapat kita identifikasi sebagai pemikiran atau emosi. Perasaan jiwa manusia selalu dinamis; sesaat kita bisa gembira, sesaat kemudian kita bisa sedih, marah, serakah, kecewa, dan lain sebagainya. Dinamisasi perasaan jiwa itulah yang dijelaskan pada konsep Sepuluh Dunia ini. Mempelajari konsep Sepuluh Dunia, niscaya akan membuat kita semakin memahami arti kehidupan.

Sembilan dari sepuluh dunia menunjukkan kondisi hati manusia biasa. Kondisi hati yang tertinggi atau Dunia Buddha (Kebuddhaan), adalah suatu keadaan yang eksis, hanya sebagai potensi di dalam diri manusia, dan hanya bisa dimunculkan melalui praktik Buddhisme.

Ketika kita mampu mewujudkan kondisi Kebudhaan tersebut, kesembilan perasaan jiwa lainnya tidaklah hilang begitu saja; mereka secara lengkap dan inheren terus ada di dalam diri kita sebagai potensi yang bisa muncul dengan sendirinya tanpa praktik Buddhisme. Kesembilan tingkat perasaan jiwa tersebut bersinergi pada pembentukan kebahagiaan maupun ketidakbahagiaan hidup kita dan orang lain. Melalui praktik Buddhisme, kita akan mampu menjadikan Kebuddhaan sebagai landasan perasaan jiwa bagi kesembilan dunia perasaan jiwa. Jika Kebuddhaan ini mampu kita latih dan tumbuhkembangkan dalam kehidupan sehari-hari, maka hawa nafsu dan keinginan-keinginan duniawi kita mampu kita kendalikan dan arahkan untuk menghasilkan karya positif dan kebahagiaan yang tak terkondisi bagi diri kita maupun orang lain.

Kebuddhaan juga dapat dimaknai sebagai kondisi kebahagiaan absolut, yang tidak tergantung / tidak terkondisi oleh apapun. Hal ini berbeda dengan konsep kebahagiaan yang berlaku pada umumnya di masyarakat, yang merupakan kebahagiaan relatif. Contoh kebahagiaan relatif adalah memiliki harta yang berkecukupan, memiliki badan yang sehat, punya keluarga yang mengasihi kita. Kebahagiaan yang kita rasakan dengan memiliki hal-hal tersebut tidaklah mutlak, akan hilang bersamaan dengan lenyapnya hal-hal tersebut dari genggaman kita. Bahkan ketika kita memiliki kekayaan dan keluarga yang mengasihi misalnya, hal tersebut kerap menjadi penyebab iri hati dan kecemburuan yang membawa ketidakbahagiaan.

Di sisi lain, kebahagiaan absolut bukanlah berarti sebuah kondisi yang bebas dari penderitaan dan masalah. Kebahagiaan absolut tercermin dari kekuatan, semangat, dan kebijaksanaan yang tinggi  untuk menghadapi dan mengatasi berbagai penderitaan dan masalah yang menghadang. Dengan memahami bahwa segala permasalahan dan penderitaan hidup yang terjadi dalam hidup kita sepenuhnya merupakan tanggung jawab diri kita sendiri, maka kita akan hidup dengan penuh percaya diri dan bertanggung jawab atas nasib kita sendiri.

Ciri lain Kebuddhaan juga tercermin dari sikap hidup yang penuh ketulusan dan welas asih terhadap orang lain dan lingkungan, serta kearifan yang tak terbatas. Kebuddhaan tak lain adalah cerminan sikap manusia yang paling luhur; memunculkan sikap paling manusiawi dari seorang makhluk manusia. Mewujudkan Kebuddhaan dengan sendirinya akan menjadi jawaban atau solusi mendasar bagi keempat sumber penderitaan universal (kelahiran, menua, penyakit, dan kematian) juga untuk permasalahan dan penderitaan hidup lainnya.

Kondisi Kebuddhaan lebih tepat dikatakan dapat dimunculkan alih-alih dicapai. Kita sendiri, melalui praktik Buddhisme, yang dapat memunculkannya. “Memunculkan” memiliki makna, bahwa sebenarnya potensi Kebuddhaan tersebut secara alami sudah terdapat di dalam diri kita, tinggal bagaimana upaya kita untuk memunculkannya, sedangkan “mencapai” memiliki makna meraih hal di luar diri kita.

Memunculkan Kebuddhaan diri sendiri bukanlah tujuan akhir dari praktik Buddhis. Buddhisme merupakan ajaran yang ingin memandu seluruh umat manusia untuk mewujudkan kebahagiaan absolut, bagi dirinya dan lingkungan hidupnya, karena Buddhisme memandang, pada dasarnya manusia dan lingkungan hidupnya (manusia lainnya, alam, makhluk hidup lainnya) adalah satu entitas dan saling terkait, tak terpisahkan.

Dengan kata lain, pada saat menjalankan praktik Buddhisme yang kita lakukan untuk meningkatkan kualitas diri kita, secara bersamaan kita juga perlu secara aktif berkontribusi dalam membawa perubahan positif terhadap lingkungan kita, kesejahteraan bangsa, negara, sampai tataran dunia. Hal ini senafas dengan keinginan luhur Sakyamuni dan Niciren, yaitu untuk menunjukkan umat manusia jalan menuju Kebuddhaan dan mencapai kebahagiaan mutlak dalam kehidupan kali ini.

Nammyohorengekyo

Nammyohorengekyo merujuk pada Hukum Pokok dari hidup dan alam semesta, yang merupakan penyebab utama tercerahkannya semua makhluk. Nam adalah pernyataan memasrahkan jiwa-raga / keinginan untuk menyatu. Myoho adalah Hukum Pokok gaib alam semesta. Gaib di sini bukan berarti ajaib atau berkenaan dengan hal klenik, melainkan sebuah Hukum Pokok yang memiliki potensi tak terbatas sebagai penyebab munculnya Kebuddhaan dalam diri manusia. Renge adalah bunga teratai, yang juga bermakna sebab-akibat kejiwaan. Sebab-akibat kejiwaan berbeda dengan sebab-akibat mekanistik pada ilmu pengetahuan alam. Sebagai contoh, sebab-akibat mekanistik dapat menjelaskan bagaimana sebuah bencana alam dapat terjadi. Namun pada pertanyaan seperti mengapa orang-orang tertentu yang menjadi korban bencana, dan bukan orang-orang lainnya, mengapa harus terjadi di daerah tersebut, bukan di daerah lainnya, hanya dapat dijelaskan oleh hukum sebab-akibat kejiwaan. Yang terakhir adalah kyo, yang berarti sutra atau tulisan.

Secara terpadu, Nammyohorengekyo berarti Saddharma Pundarika Sutra, atau judul Sutra Bunga Teratai. Niciren menjelaskan bahwa dengan melantunkan Nammyohorengekyo secara berkelangsungan, kita dapat mengubah keempat penderitaan universal menjadi empat kebajikan yang tercerahkan, yaitu keabadian, kebahagiaan, diri sejati, dan kemurnian. Nammyohorengekyo juga dapat dimaknai sebagai dorongan spiritual yang kuat dan mendalam untuk berpadu (selaras / bersinergi / manunggal) dengan pergerakan alam semesta yang pergerakannya berdasarkan Hukum Pokok sebab-akibat kejiwaan. Melantunkan Nammyohorengekyo yang dilandasi dengan ketulusan dan semangat hidup, adalah satu dari tiga pilar praktik Buddhisme utama yang perlu dijalankan untuk mewujudkan Kebuddhaan.

Ketiga pilar praktik Buddhisme adalah percaya, belajar, dan pelaksanaan. Tiga pilar ini diibaratkan sebagai penyangga sebuah meja berkaki tiga. Tidak ada salah satunya akan membuat meja kehilangan keseimbangan dan tidak mampu berdiri.

Secara singkat, Niciren menyadari bahwa inti hakikat Buddhisme untuk memunculkan Kebuddhaan, yang dapat dipraktikkan bagi seluruh umat manusia, terdapat di dalam Saddharma Pundarika Sutra, oleh karena itu, hanya dengan menyebut judul dari sutra ini sesungguhnya sudah tercakup kebajikan dan makna tersirat dari Saddharma Pundarika Sutra secara keseluruhan. Inilah praktik dasar yang dilakukan penganut Buddhisme Niciren Syosyu yang disebut dengan daimoku (melantunkan Nammyohorengekyo secara berkelangsungan).

Di dalam Saddharma Pundarika Sutra juga disebutkan bahwa Kebuddhaan yang diwujudkan Sakyamuni sesungguhnya sudah terjadi lama sebelum kehidupannya sebagai Siddharta, dengan kata lain sejak masa lampau yang tak terbatas. Hal ini menjelaskan bahwa perihal Kebuddhaan sudah ada secara hakiki dan kekal pada kehidupan. Sebelum Siddharta mewujudkan Kebuddhaannya, kebenaran hakiki maupun kebijaksanaan untuk menyadari kebenaran tersebut sudah ada di dalam dirinya. Kedua makna inilah yang terkandung dalam Nammyohorengekyo, yang merupakan intisari Buddhisme. Dengan demikian, Nammyohorengekyo adalah tujuan yang ingin dicapai dalam praktik Buddhisme, sekaligus menjadi cara untuk mencapai tujuan tersebut.

Untuk mewujudkan Kebuddhaan dalam diri, kita tidak perlu berubah menjadi makhluk lain, atau menunggu bentuk entitas lain di kehidupan mendatang. Yang harus kita lakukan adalah berusaha keras pada kehidupan kali ini untuk mewujudkan Kebuddhaan tersebut. §

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s