Mengembangkan Sikap Etis dan Menghargai Privasi dalam Interaksi Sosial pada Jejaring Sosial “Facebook”

Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) tidak pernah berhenti berkembang, berinovasi, dan berevolusi, membawa peradaban manusia menjadi kian modern dan canggih. Namun layaknya sekeping mata uang yang memiliki dua sisi, di satu sisi perkembangan iptek memberikan manfaat dan efisiensi terhadap kehidupan, di sisi lain memungkinkan manusia untuk menyalahgunakan kemudahan yang ditawarkan untuk melakukan perbuatan yang dapat merugikan diri dan lingkungannya.

Era globalisasi yang ditandai dengan digitalisasi dan komputerisasi menawarkan cara hidup yang membuat kendala jarak dan waktu menjadi semakin tidak berarti. Kemajuan teknologi pada dasarnya membebaskan kita dari keterbelakangan, sedangkan dharma dan Buddhisme membimbing kita agar mampu memanfaatkan kemajuan yang ada dengan tepat guna dan tidak merugikan diri dan lingkungan.

Seluruh manusia yang hadir di dunia ini pasti memiliki keinginan hidup mendasar yang sama, yaitu ingin merasakan kebahagiaan dalam hidup, termasuk di dalamnya menjalani hidup dengan damai dan tenteram. Manusia pun menempuh beragam cara untuk mewujudkan kebahagiaan tersebut. Perkembangan iptek menjadi salah satu upaya manusia dalam mewujudkan hidup yang lebih bermanfaat, yang niscaya mampu memberikan kebahagiaan bagi dirinya.

Namun perkembangan iptek beserta produk keluarannya terkadang sering digunakan dengan cara yang merugikan; membahagiakan dirinya sendiri, tetapi merugikan orang lain; membahagiakan dirinya sendiri, tetapi menghancurkan kebahagiaan, bahkan kehidupan pihak lain. Sang Buddha pun memberikan bimbingan kepada umat manusia, bahwa kita harus menghadapi kehidupan ini dengan wajar dan benar. Penghidupan yang benar, termasuk di dalamnya pemanfaatan produk keluaran (output) dari perkembangan iptek secara benar, tentu akan membantu hidup manusia menjadi lebih mudah, simpel, dan praktis, alih-alih membuat hidup menjadi lebih kompleks dan menambah problematika.

Salah satu output dari kemajuan teknologi adalah berkembangnya social media atau situs jejaring sosial di internet, yaitu Facebook. Seiring berkembangnya teknologi di bidang komunikasi dan informasi (information and communications technology atau ICT), semakin banyak manusia yang mengalami terpaan teknologi (technology exposure). Khususnya masyarakat perkotaan yang sudah mengenal internet, umumnya mereka memiliki akun Facebook. Melakukan interaksi sosial melalui Facebook menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat modern.

Pada bulan Januari 2011, pengguna Facebook di Asia mencapai 111,9 juta pengguna, dan 32 juta pengguna di antaranya adalah orang Indonesia. Angka pertumbuhannya sendiri mencapai 21.4% sejak caturwulan terakhir 2010. Tren penggunaan Facebook terus meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini disebabkan bukan hanya karena kebutuhan manusia terhadap media interaksi sosial, tetapi juga pengaruh bentukan lingkungan sosial yang menjadikan tren ini sebagai bagian dari gaya hidup modern.

Saat ini Facebook menjadi salah satu media atau perantara komunikasi tidak langsung antar manusia. Dikatakan sebagai media komunikasi tidak langsung karena dalam proses komunikasi melalui Facebook, dua manusia tidak saling bertatap muka langsung. Mereka berinteraksi secara tertulis, fitur terkini menawarkan pengguna untuk bisa melakukan obrolan (chat) tertulis secara langsung (real time).

Dalam berkomunikasi, setiap manusia pasti melibatkan sikap dan emosi di dalamnya, baik itu komunikasi langsung atau tidak langsung, lisan atau tulisan. Manusia membentuk pesan-pesan berdasarkan proses persepsi dan resepsi alat indera, serta melibatkan memori atau pengalaman di masa lalu. Unsur-unsur mental inilah yang membentuk karakteristik dan sikap kita dalam berinteraksi sosial.

Kita harus memiliki kearifan dalam melakukan interaksi sosial. Jika kita tidak cukup bijak dalam mengatur pola dan sikap interaksi sosial kita, walhasil kita proses komunikasi kita dapat berujung pada konflik sosial. Begitu juga interaksi melalui social media seperti Facebook. Kelalaian kita dalam mawas diri terhadap penggunaan social media, akan membawa kita pada isu etika dan privasi.

Manusia secara alamiah memiliki kecenderungan untuk menonjolkan sikap egois dalam berinteraksi. Contoh sederhana, ketika kita mengobrol dengan orang lain, kita terlihat mendengarkan, tetapi dalam pikiran kita sedang menyusun kata-kata untuk merespon balik ucapan lawan bicara kita, yang secara mendasar sebenarnya bertujuan untuk menunjukkan bahwa kita lebih benar, kita lebih hebat, kita lebih menguasai atau kita lebih mampu terhadap topik yang dibicarakan. Apakah kita menyimak? Seringkali tidak. Yang kita lakukan sebatas mendengar. Kita merasa apa yang orang lain katakan sifatnya kurang penting daripada apa yang kita katakan. Sebab utamanya sebenarnya adalah ego yang tinggi, yang secara alami ada di dalam diri kita. Jika tidak kita kendalikan, ego ini akan jadi penghalang utama bagi kita untuk belajar dan mengembangkan kebahagiaan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Buddhisme membimbing umat manusia untuk mengenal lebih jauh tentang dirinya sendiri, memahami perasaan jiwa dan pikirannya. Melalui ajaran-ajaran Buddha, pelaksanaan meditasi yang tekun, serta mengimplementasikan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari, kita akan mampu memunculkan potensi kebuddhaan yang secara inheren ada di dalam diri kita masing-masing; sama halnya seperti potensi egois, serakah, dan marah. Buddha Niciren Daisyonin mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki dasar kecenderungan perasaan jiwa yang bisa dikategorikan menjadi sepuluh macam, atau dikenal dengan Sepuluh Dunia, dari kecenderungan perasaan jiwa yang paling destruktif (neraka) hingga kecenderungan perasaan jiwa yang paling konstruktif, agung, dan suci (Buddha).

Pelaksanaan Buddhisme secara utuh (percaya, melaksanakan, dan belajar), merupakan upaya yang ditunjukkan oleh Buddha untuk melatih perasaan jiwa kita supaya kita mampu memunculkan potensi kebuddhaan di banyak saat dalam hidup kita. Buddha Niciren Daisyonin menyadari, bahwa dalam periode kehidupan Masa Akhir Dharma (periode waktu 2500 tahun setelah moksyanya Buddha Sakyamuni), perasaan jiwa manusia semakin keruh, begitu pula dengan lingkungan sosial yang membentuk karakter dan perilaku manusia.

Kecenderungan sifat manusia yang utama adalah keserakahan, kemarahan, dan kebodohan. Hal ini menjadi salah satu pemikiran Sang Buddha yang telah menyadari kondisi hidup masa akhir dharma yang demikian sejak memunculkan kebuddhaan pada waktu asam kheya kalpa koti yang tak terhingga jauhnya. Dengan kearifannya yang begitu mendalam, Sang Buddha menunjukkan upaya pertapaan yang dapat kita lakukan agar kita bisa memunculkan potensi kebuddhaan, di tengah-tengah derasnya terpaan pengaruh buruk lingkungan, dan tumpukan karma buruk dalam gudang karma (alaya) kita.

Dengan landasan hidup yang berdasarkan ajaran Buddha inilah, kita akan mampu menjaga kondisi perasaan jiwa kita agar senantiasa berada di dalam kondisi kebuddhaan, atau minimal tidak berada pada kondisi jiwa neraka, serakah, atau marah. Perihal kondisi mental inilah yang mampu mengendalikan sikap hidup kita, termasuk sikap kita dalam berinteraksi atau berkomunikasi dengan orang lain melalui Facebook. Niscaya, kita akan mampu mengarahkan sikap-sikap komunikasi kita pada praktik yang etis, tidak menyinggung orang lain, serta menghargai privasi diri sendiri dan orang lain. Secara tidak langsung, kita juga menunjukkan perilaku kita sebagai seorang Buddhis yang sesungguhnya, yang mencerminkan keagungan hukum dan ajaran Buddha dalam perilaku kita. Seiring dengan itu, kita pun sudah berada dalam koridor yang sama dengan tujuan kehadiran Buddha di dunia ini, yaitu mewujudkan kebahagiaan apa adanya bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan hidup kita.

Pentingnya Menjaga Privasi dan Etika dalam Penggunaan Facebook

Seperti yang sempat disinggung di awal, social media Facebook memiliki potensi manfaat dan merugikan, ibarat sekeping mata uang yang memiliki dua sisi. Potensi mana yang akan berkembang, tergantung cara kita menggunakannya.

Situs jejaring sosial seperti Facebook, memberikan kesempatan kepada penggunanya untuk membuat hubungan relasional di dunia maya. Hubungan relasional di dunia maya menawarkan karakteristik pola hubungan sosial yang tidak dimiliki oleh hubungan relasional di dunia nyata, yaitu kebebasan untuk mendapatkan perhatian atas ekspresi diri. Walau perantaranya melalui media tulisan, nyatanya dampak psikologis yang dirasakan tidak kalah dengan interaksi sosial secara lisan atau langsung.

Pengguna Facebook pun dapat mencoba untuk menambah relasi mereka (add friends) sebanyak-banyaknya, dan memiliki kesempatan untuk mendapat perhatian dari mereka semua terhadap kondisi diri kita melalui update status, berbagi foto, video, notes. Pada penggunaan social media seperti Facebook, terdapat nuansa komunikasi yang memancing hasrat penggunanya untuk menonjolkan citra diri, keinginan untuk diperhatikan. Semua upaya tersebut pada dasarnya ingin menunjukkan eksistensi kita sebagai manusia yang ingin diakui oleh manusia lainnya, menunjukkan ego kita.

Ketika kita lengah untuk mengendalikan ego kita, perilaku komunikasi kita dapat memicu masalah dalam hubungan sosial kita dengan relasi kita di Facebook, dan tak jarang berujung pada konflik di dunia nyata. Egoisme memiliki kecenderungan negatif yang dapat mendorong sisi emosional kita, menimbulkan sikap-sikap yang pada akhirnya dapat merugikan diri kita sendiri. Contoh kasus yang pernah terjadi sebagai berikut.

Ketika kita tidak cukup mampu untuk mengutarakan kejengkelan kita secara langsung terhadap teman kita, kita menuangkannya dalam update status di Facebook. Celakanya, teman kita itu adalah salah satu teman dalam Facebook kita, dan dia membaca status Facebook kita. Yang terjadi selanjutnya, teman kita merasa sakit hati karena menganggap kita “menusuknya dari belakang”, mengumbar masalah diantara mereka ke hadapan seantero pengguna Facebook dalam relasi mereka. Buntutnya panjang. Konflik pun terjadi di dunia nyata, membuat hubungan pertemanan di antara mereka memburuk, bahkan menjadikan mereka menjadi dua orang yang saling asing.

Contoh kasus kedua terjadi pada pasangan suami istri. Mereka memiliki akun Facebook. Sang suami menaruh hati pada rekan kerja wanita di kantornya. Dia juga memiliki akun Facebook. Melalui Facebook, melakukan interaksi sosial, saling mengomentari status. Di dunia nyata, mereka ternyata saling tertarik, terlepas dari status si pria yang sudah beristri. Facebook pun digunakan sebagai media pertukaran pesan perselingkuhan, termasuk pesan-pesan yang bernuansa romantis. Si istri yang juga pengguna Facebook dan berteman dengan suaminya, bisa melihat pertukaran komentar dan pesan di Facebooknya. Sontak si istri pun kaget, dan melancarkan cercaan melalui Facebook terhadap suaminya. Para teman di Facebook mereka menjadi penonton drama tragedi rumah tangga mereka, yang lazimnya tidak menjadi konsumsi publik.

Kedua contoh kasus di atas menunjukkan terjadinya pergesaran lingkup ranah pribadi ke ranah publik, padahal hal-hal seperti permasalahan masalah pribadi dengan sahabat, atau problem rumah tangga, menimbulkan dampak yang kurang baik bagi interaksi kita di dunia nyata dan nama baik kita. Dari masalah tersebut, kita menderita kerugian psikis, karena dampaknya meluas ke ranah publik. Keseimbangan sosial kita menjadi terganggu, padahal pemenuhan atas kebutuhan sosial adalah salah satu kebutuhan dasar manusia setelah sandang, pangan, dan papan. Interaksi sosial yang baik, akan menghasilkan kestabilan jiwa dan pikiran kita, sehingga kita menjadi lebih kreatif, produktif, dan inovatif.

Selain itu, Facebook juga kerap digunakan sebagai media untuk memperoleh dukungan, pembenaran, atau jawaban atas permasalahan yang terjadi pada dirinya dari Facebook, dari teman-teman Facebook-nya. Jika tidak diarahkan dan mendapat bimbingan, manusia memiliki kecenderungan untuk “menikmati” kegalauan yang terjadi pada dirinya, “menikmati” diperhatikan dan dikasihani oleh manusia lainnya. Pada Facebook, hal ini dapat dilakukan dengan melakukan update status, dan membaca komentar-komentar yang datang terhadap statusnya itu.

Mungkin sejenak kita merasa lebih baik, karena banyak teman-teman Facebook yang memberi perhatian. Namun apakah masalah teratasi dengan dukungan-dukungan tersebut? Tentu saja kunci utamanya ada pada diri kita sendiri yang mau bangkit dan bergerak untuk mengatasi masalah kita. Perhatian melalui interaksi sosial di Facebook bisa kita jadikan dorongan semangat untuk bangkit. Sebaliknya, akan menjadi tidak menguntungkan apabila kita malah terlena terhadap perhatian tersebut. Alih-alih bangkit dari keterpurukan, kita malah “menikmati” perhatian dari kerabat Facebook. Kita menjadikan Facebook sebagai media untuk memenuhi hasrat ego kita. Pada akhirnya, kita malah akan semakin terpuruk akibat egoisme negatif yang semakin menguasai diri kita.

Facebook: Membawa Manfaat atau Mudarat? Kita yang Menentukan

Beretika tentu menjadi sebuah pakem dasar dalam menciptakan interaksi yang konstruktif dan positif. Manusia hidup dalam sistem kemasyarakatan, dan etika sudah menjadi bagian dari identitas manusia yang membedakannya dengan jenis makhluk hidup lainnya. Selain itu, dengan mengembangkan sikap etis di masyarakat, kita juga telah melakukan upaya untuk memanusiakan diri kita dan memanusiakan orang lain. Tanpa etika, manusia akan kehilangan identitas inheren utamanya, dan tidak mampu untuk mengembangkan sikap-sikap manusiawi, seperti saling menghargai dan menghormati batasan-batasan ranah publik dan ranah pribadi.

Buddhisme memberikan paradigma yang tuntas dalam memandang akar segala permasalahan yang manusia alami dalam kehidupan, dan bagaimana cara mengatasinya agar memberikan manfaat positif dan kebahagiaan bagi semua makhluk dan lingkungan. Semua ada dimulai dari diri kita sendiri; akar masalah, cara mengatasi masalah, kekuatan untuk menghadapi masalah, kesadaran untuk mengontrol sikap dan perilaku. Sang Buddha mengajarkan, yang harus kita lakukan adalah melakukan praktik-praktik Buddhisme yang mampu memunculkan potensi diri kita untuk menyadari dan bereaksi secara tepat dalam menghadapi persoalan apapun, yaitu dengan memunculkan kebuddhaan.

Praktik Buddhisme ini (percaya, belajar, dan melaksanakan ajaran Buddha) akan memberikan manfaat berupa kesadaran dan mawas diri yang tinggi terhadap setiap pergerakan yang diri kita lakukan, serta memunculkan prajna yang tepat dalam merespon setiap gejala dari lingkungan kita (sosial maupun alam). Semua aksi-reaksi yang kita lakukan pasti akan bertujuan untuk memberikan kebahagiaan dan manfaat orang lain. Berusaha untuk mencabut atau meringankan penderitaan orang lain. Kita menjadikan diri kita sebagai manifestasi Buddhisme, menjalankan sikap welas asih dan maitri karuna.

Dalam kaitannya dengan penggunaan social media, pemahaman di atas akan menjadikan kita sebagai pengguna yang arif, memikirkan secara mendalam konsekuensi yang dapat kita timbulkan dari interaksi sosial kita di Facebook, begitu juga halnya dengan interaksi sosial di dunia nyata. Perilaku yang etis dan menghargai privasi dengan sendirinya akan menjadi keluaran (output) positif hasil dari kondisi perasaan jiwa kita yang berlandaskan kebuddhaan. Interaksi sosial kita akan dilandasi dengan rasa tidak ingin menyakiti, menjalankan sikap hidup yang benar, ingin menggunakan materi atau barang secara tepat guna dan bermanfaat. Dengan kata lain, sebagai seorang Buddhis sejati, kita akan mampu menjaga perasaan jiwa kita, menjaga pikiran agar tetap jernih, sehingga mampu merespon segala gejala di sekitar kita secara positif dan optimal.

Dengan kesadaran dan pola berpikir seperti ini, kita akan mampu menciptakan suasana interaksi sosial yang positif di situs jejaring sosial Facebook karena kita sudah terlebih dahulu mampu mengontrol (to manage) ego kita. Potensi konflik di dunia maya maupun di dunia nyata pun akan jauh berkurang. Facebook menjadi sarana interaksi sosial yang lebih nyaman dan mampu kita arahkan untuk memberikan manfaat yang lebih positif dan tepat guna. Pada dasarnya hukum Buddha selaras dengan hukum kemasyarakatan dan perkembangan iptek. Ketika kita mampu memahami ajaran Buddha secara benar dan menjalankannya, maka segala hasil keluaran dari perkembangan iptek pasti akan mampu kita utilisasikan sebagai penunjang terwujudnya kehidupan yang damai, harmonis, penuh manfaat positif, dan bahagia berdasarkan Buddha dharma. §

Tulisan ini menjadi juara satu dalam lomba Penulisan Artikel Ilmiah Sippa Dhamma Samajja 2011 yang diselenggarakan oleh Direktorat Jendral Agama Buddha Kementerian Agama RI.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s