Menghadapi Pemarah

Kemacetan, kesulitan ekonomi, dan masalah hidup yang menguras pikiran biasanya menjadi sumber tekanan batin bagi orang-orang yang tidak punya kekuatan jiwa untuk mengatasinya. Akibatnya, orang menjadi stress, mudah marah dan emosinya meledak-ledak. Dari raut wajah kadang bisa terlihat apakah seseorang merasa bahagia atau justru stress dengan hidupnya. Yang pasti, orang bahagia tidak akan mudah marah dan menarik-narik urat wajahnya sampai warna muka menjadi merah dan dahi berkerut-kerut. Marah adalah respons dari ketidaknyamanan psikologis dan juga keruwetan jiwa seseorang. Untuk menghadapi orang yang pemarah, kita sebenarnya tidak perlu susah-susah untuk melawan atau membalasnya.

Kita punya hukum agung Nammyohorengekyo dalam jiwa ini, yang bisa memunculkan kesadaran  Buddha, yaitu sifat kuat, bebas, suci, dan tenang. Saat menghadapi orang yang emosi, biasanya emosi kita juga terpancing. Namun jika sehari-hari kita biasa menjalankan pertapaan Daimoku dan Gongyo, kita tidak akan mudah terpancing. Malah, kita akan senantiasa mawas diri dan bisa berpikiran jernih, berpikiran jauh lebih maju daripada orang yang dilanda kemarahan. Kita mampu menguasai diri dan memberikan solusi positif dari kondisi emosi yang terjadi saat itu. Kita berjuang melawan akar kesesatan jiwa marah kita, dengan berlandaskan Nammyohorengekyo, kita bisa menguasai diri, menang atas ego dan jiwa kemarahan diri kita.

Setelah  berjuang mengendalikan emosi dan tidak marah, biasanya kita merasakan panas dalam dada, dan energi seolah terkuras. Emosi kemarahan penuh dengan energi jiwa yang negatif, dan kalau kita tidak punya persediaan energi positif (yaitu tabungan rezeki jiwa dari penyebutan Nammyohorengekyo), kita pasti akan lelah secara mental jika kemarahan tengah melanda diri kita. Ini proses kejiwaan yang bisa kita latih, sampai akhirnya kualitas jiwa kita meningkat ke kondisi yang lebih tinggi. Tolak ukur kualitas jiwa kita dapat kita lihat dari kehidupan kita sehari-hari. Apabila kita masih berjodoh dengan orang-orang pemarah, penuh kebencian, dengki, dan iri hati, itu berarti kondisi jiwa kita masih banyak bergerak dalam perasaan yang serupa dengan mereka.

Jangan cepat merasa tertekan dan merasa diri sendiri begitu kotor karena punya sifat marah. Sifat marah adalah bagian dari sepuluh perasaan jiwa manusia yang secara hakiki ada di dalam tiap diri manusia. Namun tentu sifat marah bukanlah sifat yang baik jika menjadi dasar kecenderungan jiwa kita. Setiap saat, kita harus berupaya untuk menjadikan sifat dari dunia Buddha sebagai dasar kecenderungan jiwa dalam menjalani hidup sehari-hari.

Oleh karena itu, kita perlu senantiasa meningkatkan kualitas jiwa kita dengan melaksanakan gongyo daimoku dan melatih diri untuk tidak terpancing dengan kemarahan, perlahan tapi pasti suasana lingkungan pasti berubah. Semuanya berawal dari kedalaman jiwa kita. Jika jiwa ini bersih, suasana lingkungan pasti bersih juga.

Langkah selanjutnya setelah kita berhasil mengendalikan sifat marah dan tidak terpancing dengan jodoh marah di sekitar, kita tidak cukup hanya menyelamatkan diri sendiri saja. Keinginan Buddha Niciren Daisyonin adalah ingin seluruh umat manusia bahagia dan mencapai kesadaran Buddha. Kita juga bisa melakukan hal yang sama, yaitu dengan belajar untuk memikirkan orang lain yang menderita, salah satunya orang yang sering marah-marah.

Marah itu menguras energi dan jadi sumber penyakit kronis. Marah pun biasanya awal mula dari kematian mendadak yang tidak disangka-sangka, yaitu penyakit stroke atau kecelakaan lalu lintas. Ketika ada teman, saudara, atau kenalan kita yang sering memarahi kita, jangan kita lantas membencinya juga.

Kita bisa melakukan daimoku diiringi keinginan  semoga orang pemarah itu bisa memunculkan kesadaran Buddha dalam jiwanya. Kita juga berkeinginan untuk tidak membencinya, tapi sebaliknya, mendoakan semoga orang itu bisa mengatasi kesesatan jiwanya. Jika orang itu belum mengenal hukum Nammyohorengekyo, kita coba melakukan pendekatan untuk men-syakubuku dia agar dia bisa mengubah nasibnya yang berada di dunia kemarahan itu. Namun tentu saja, sebelum men-syakubuku orang lain, kita sendiri harus terlebih dahulu mempraktikkan dharma Buddha Niciren Daisyonin dalam kehidupan kita.

Jika kita bisa merombak sifat marah dan bisa menumbuhkan sifat Buddha dalam jiwa, otomatis alam semesta akan merasakan getaran positif di mana-mana. Jika setiap orang bisa merasakan kebahagiaan sesungguhnya, ketenangan, kekuatan, kesucian, dan kebebasan dalam jiwanya, pastinya semakin berkurang orang yang memiliki kecenderungan jiwa marah atau orang-orang yang suka memicu permusuhan. §

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s