Menentukan Pilihan Terbaik

Perkembangan Pemilu Presiden 2009

Setelah bersama-sama kita ikuti pemilihan umum (pemilu) legislatif pada tanggal 9 April kemarin, kini tiga bulan sesudahnya, kita warga Indonesia dihadapkan pada pemilu untuk memilih calon presiden dan calon wakil presiden untuk memimpin bangsa ini. Periode kepemimpinan presiden terpilih beserta wakilnya akan dimulai pada penghujung tahun ini sampai pertengahan tahun 2014.

Ada tiga pasang kandidat pada bursa capres-cawapres pemilu kali ini. Berdasarkan nomor urut yang diambil di Komisi Pemilihan Umum (KPU) oleh masing-masing pasangan, pasangan nomor urut satu adalah Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto, nomor urut dua adalah Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono (SBY-Boediono), dan nomor urut tiga adalah Jusuf Kalla dan Wiranto (JK-Win).

Megawati adalah mantan Presiden RI periode 2002-2004. SBY saat ini masih menjabat sebagai Presiden RI, sedangkan Jusuf Kalla masih menjabat sebagai Wakil Presiden RI. Prabowo pernah menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategi TNI Angkatan Darat (1998). Sebelum dipinang SBY, Boediono adalah Gubernur Bank Indonesia, sedangkan Wiranto adalah mantan Menteri Pertahanan dan Keamanan (1998-1999) dan Mantan Menteri Koordinasi Politik dan Keamanan (Menko Polkam) tahun 1999-2000.

Jika dibandingkan, jumlah pasangan kandidat capres-cawapres pada pemilu tahun ini tidak sebanyak pasangan kandidat pada pemilu tahun 2004, yang berjumlah lima pasang. Mereka adalah Wiranto-Salahuddin Wahid, Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi, Amien Rais-Siswono Yudo Husodo, Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, dan Hamzah Haz-Agum Gumelar. Pemilu presiden 2004 putaran pertama menempatkan SBY-Jusuf Kalla dan Megawati-Hasyim Muzadi pada posisi dua teratas, menyisihkan tiga pasangan lainnya. Putaran kedua pemilu dimenangkan pasangan SBY-Jusuf Kalla. Empat kandidat dalam pemilu capres-cawapres 2004 kembali masuk ke bursa pemilu 2009, yaitu Wiranto, Megawati, SBY, dan Jusuf Kalla, dengan kombinasi yang berbeda.

Di dalam perhelatan dunia politik dan dinamika capres dan cawapres yang kian menghangat, kita sebagai warga masyarakat harus menyadari bahwa kita mempunyai peran penting dalam menentukan siapa yang berhak memimpin kita selama lima tahun ke depan.

Kita perlu merasakan tanggung jawab sebagai warga negara terhadap perkembangan negeri kita. Salah satu bentuk tanggung jawab ini kita terapkan dengan berpartisipasi dalam pemilu presiden mendatang. Partisipasi tersebut perlu kita dahului dengan mencari informasi tentang kiprah capres-cawapres selama ini dalam membangun negeri, menilik kesinergisan antara visi-misi mereka dengan aksi nyata yang selama ini mereka lakukan terhadap kemajuan bangsa.

Setelah kita memiliki informasi yang memadai, kita dapat semakin yakin menentukan pilihan kita terhadap satu pasangan calon yang menurut kita dapat mengarahkan Indonesia menjadi bangsa yang semakin maju dan berdaya.

 

Memunculkan Prajna Buddha untuk Memilih yang Terbaik

Sebagai murid Niciren Daisyonin, kita diajarkan untuk senantiasa membaktikan diri bagi kemajuan bangsa dan negara. Kita memiliki pusaka agung Gohonzon dan Nammyohorengekyo dari Sandaihiho yang dapat memunculkan prajna dan kesadaran Buddha. Prajna Buddha penting untuk kita munculkan, agar kita dapat menilai segala sesuatu di dalam kehidupan secara menyeluruh, tepat, dan berorientasi kebaikan untuk saat ini dan masa akan datang.

Pada hakekatnya, memunculkan prajna dan kesadaran Buddha perlu kita munculkan setiap saat, karena akan mengarahkan hidup kita pada kehidupan yang bermanfaat. Kita pun akan mampu merasakan kebahagiaan yang tak bersyarat / bahagia dengan badan apa adanya dalam kehidupan kali ini, kebahagiaan yang menurut Sang Buddha patut kita perjuangkan dan merupakan kebahagiaan tertinggi.

Prajna Buddha bukanlah sesuatu yang mengawang-awang dan tidak dapat manusia munculkan. Justru, Sang Buddha sendiri mampu memunculkan kesadaran dan prajna-Nya dengan badan manusia, sama seperti kita, yang berarti kita pun dapat mewujudkannya.

Prajna Buddha tidak muncul begitu saja. Perlu upaya penuh kesungguhan dan ketulusan dalam menjalankan hati kepercayaan secara konsisten dan aplikatif. Jika menjalankan hati kepercayaan saja tidak konsisten dan sikap hati kepercayaan kita tidak tepat, bagaimana mungkin pikiran dan perilaku kita dapat membawa kebaikan dan kebahagiaan?

Buddha Sakyamuni membutuhkan waktu tak kurang dari 40 tahun dengan bertapa untuk mencapai kesadaran. Kita umat manusia sepatutnya bersyukur dan berterima kasih, karena Buddha pokok kita, Niciren Daisyonin, telah mewujudkan Gohonzon dan menemukan inti hakekat ajaran Buddha, yaitu Nammyohorengekyo dari Sandaihiho sebagai jodoh terbaik untuk memunculkan kesadaran Buddha. Kita tidak perlu lagi bertapa bertahun-tahun dan mengasingkan diri di hutan untuk mencapai kesadaran Buddha.

Pertapaan kita ada di dalam kehidupan kita sehari-hari, bagaimana kita bersikap, berbicara, berpikir, menjalankan gongyo dan daimoku, belajar dharma serta menjalankan keaktifan di susunan. Upaya yang konsisten, kesungguhan dan ketulusan hati dalam menjalankan hati kepercayaan (shin gyo gaku), adalah syarat mutlak untuk mencapai kesadaran.

Kita dapat mengidentifikasi apakah pikiran kita berlandaskan prajna Buddha atau tidak, dengan cara merasakan apakah ada faktor egoisme di dalam pikiran kita, apakah kita memikirkan kebahagiaan orang lain, atau memikirkan keuntungan diri sendiri semata. Prajna dan kesadaran Buddha adalah tahap pemikiran dan perasaan yang memenuhi kriteria kuat, suci, bebas, dan tenang. Dalam keadaan seperti ini, pikiran dan perasaan manusia berada dalam status yang paling optimal, sehingga dapat menunjang badannya dalam berkreasi dan berinteraksi secara positif.

Hidup adalah pilihan. Selama kita masih hidup dan bernapas, selama itu pula kita akan terus menghadapi pilihan. Pilihan kita akan menentukan hidup kita, serta merta mempengaruhi lingkungan sekitar kita, menjadi lebih baik, atau menjadi lebih buruk dari kondisi semula. Menghadapi pilihan dalam situasi apapun, hendaknya kita selalu melatih diri kita agar pilihan kita sesuai dengan ajaran Buddha, pilihan kita akan tepat dan mampu membawa kebaikan bagi lingkungan dan diri sendiri.

Memilih dalam pemilu adalah satu aksi penting yang membutuhkan kesungguhan dan keseriusan, karena pilihan satu orang memiliki andil dalam menentukan arah dan pergerakan bangsa selama lima tahun ke depan. Walau kita merasa telah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai para kandidat capres dan cawapres, tanpa disertai prajna Buddha, bisa saja kita melewatkan hal-hal penting yang dapat mempengaruhi pilihan kita.

Tidak memilih atau golput pun bukan berarti kita tidak memiliki andil atau lepas tanggung jawab terhadap pergerakan nasib bangsa selama lima tahun ke depan. Justru, dengan golput kita mempersulit bangsa kita, karena legitimasi pemilu berkurang. Hal ini dapat menimbulkan perdebatan dan memicu konflik.

Mari, kita sama-sama terus meningkatkan pelaksanaan hati kepercayaan kita pada Gohonzon secara tepat dan konsisten untuk memunculkan kesadaran dan prajna Buddha. Tak sebatas memilih dalam pemilu, apa pun yang kita pilih dalam perjalanan hidup kita dapat kita sadari sebagai pilihan terbaik. Jiwa dan raga kita akan terus bersinergi untuk mewujudkan kebaikan dan kebahagiaan dari doa pelaksanaan yang kita lakukan bagi diri sendiri dan lingkungan. §

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s