Sudah Siapkah Anda Mencontreng?

Bulan ini, bangsa Indonesia dihadapkan pada pesta demokrasi dengan diadakannya pemilu legislatif pada tanggal 9 April secara serempak di seluruh Indonesia, kecuali di dua kabupaten pemilihan di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang akan diundur menjadi tanggal 13 April karena masyarakat di sana mayoritas beragama Katolik dan tengah memperingati kamis putih pada tanggal 9.

Suasana politik terasa mengental dalam kehidupan sehari-hari. Headline pemberitaan di media massa hampir selalu mengenai isu politik dan serba-serbi pemilu sejak beberapa minggu terakhir. Berbagai polling interaktif digelar untuk memantau tren popularitas partai dan calon presiden. Jika tidak ada perubahan, putaran pertama untuk pemilu presiden sendiri akan diselenggarakan pada tanggal 8 Juli 2009.

Lingkungan di sekitar kita juga dimeriahkan oleh kehadiran gambar wajah-wajah caleg yang dipajang di setiap sudut kota sampa pedesaan, mulai dari yang ukurannya sebesar kertas A4, sampai yang besarnya sekitar 20 meter persegi, bahkan lebih. Kendaraan umum dan kendaraan pribadi juga tak luput dari serbuan berbagai stiker dan sablonan kaca film bergambar caleg. Artis-artis Indonesia tidak mau ketinggalan berpartisipasi dalam ajang politik ini. Sebut saja pesinetron dan bintang iklan Marini Zumarnis serta komedian Eko Patrio yang diusung partai yang sama untuk menjadi calon legislatif.

Semaraknya para artis yang mencalonkan diri menjadi anggota legislatif mungkin terinspirasi dari rekan mereka sesama artis yang sebelumnya sukses di ranah politik. Rano Karno yang cukup dikenal sebagai Si Doel misalnya, kini tengah menjabat Wakil Bupati di Kabupaten Tangerang, sedangkan Dede Yusuf menjabat Wakil Gubernur Propinsi Jawa Barat.

Namun demikian, tak hanya orang-orang yang berprofesi sebagai artis, politisi, pebisnis, bahkan sampai pengamen, anak jalanan, dan loper koran, berpartisipasi sebagai caleg dalam pemilu kali ini. Keragaman latar belakang profesi caleg menjadi salah satu tanda bahwa siapapun berhak untuk menyuarakan aspirasinya dan mengajukan dirinya sebagai caleg apabila merasa dapat menyalurkan aspirasi masyarakat / kaumnya.

Terlepas dari apa pun profesi yang sedang atau pernah mereka jalani, caleg yang benar harus mempersiapkan diri untuk memikirkan nasib bangsa Indonesia menuju kehidupan yang lebih baik. Visi-misi harus disertai dengan kontribusi nyata selama ini terhadap pemberdayaan dan pembangunan masyarakat, setidaknya di lingkungan tempat mereka mencalonkan diri. Ini adalah tahap yang harus kita lewati bersama menuju babak baru yang lebih matang di dalam kehidupan berpolitik.

Dibandingkan dengan pemilu tahun 2004, jumlah partai peserta pemilu kali ini semakin banyak, yaitu 34 partai dan 6 partai lokal di Aceh, sedangkan pemilu sebelumnya hanya 24 partai. Yang lebih mencolok, keikutsertaan kader-kader partai yang menjadi calon legislatif atau caleg, secara keseluruhan mencapai angka 11.000 partisipan dari seluruh Indonesia (meliputi caleg DPR RI, DPD, dan DPRD).

Banyaknya pilihan partai dan caleg di satu sisi memang memusingkan, tetapi di sisi lain kita sebagai rakyat juga diuntungkan karena dihadapkan pada pilihan yang luas dan bervariasi. Agar keuntungan ini dapat dikembangkan secara optimal, kita sebagai pemilih harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang perkembangan politik.

Jangan biarkan berbagai pilihan yang melimpah-ruah membuat kita pusing dan malah bersikap apatis terhadap kehidupan politik di negeri kita. kita juga harus kritis dalam menilai kapabilitas dan kredibilitas para calon legislatif, karena nantinya mereka yang akan menjadi corong aspirasi kita terhadap pemerintah. Jika corongnya rusak, bagaimana aspirasi kita dapat ditampung, apalagi disalurkan dengan baik.

Media massa (koran, majalah, televisi, internet), menjadi sarana utama bagi kita untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin informasi seputar pemilu dan sarana bagi kita untuk menjadi lebih kritis menyikapi perilaku parpol dan calegnya. Berita politik kini sedang banyak-banyaknya di berbagai media massa.

Di koran, ada kolom khusus yang memuat perkembangan pemilu. Di televisi, disajikan program-program baru yang berisi debat atau diskusi partai politik / caleg. Banyak hal menarik dan informatif yang dapat kita saksikan. Kita juga bisa menilai, mana partai yang kira-kira dapat kita percaya dan andalkan, caleg mana yang berupaya sekuat tenaga untuk memperjuangkan rakyat, dan mana yang hanya sekedar omong besar.

Pemilu legislatif tinggal menghitung hari. Upaya menyosialisasikan tata cara pemilu kali ini yang menggunakan sistem contreng terus dilakukan. Kita sebagai warga negara juga perlu mendukung pemerintah dengan aktif mencari tahu informasi sebanyak-banyaknya mengenai caleg dan partai politik yang ada dalam pemilu. Kenali dan dalami visi-misinya, lalu mantapkan diri Anda untuk memilih pilihan yang terbaik menurut pikiran dan hati nurani Anda.

Sebagai murid Niciren Daisyonin, kita juga harus selalu ingat akan jasa tanah air Indonesia. Peran serta kita dalam menyukseskan pemilu dan menetapkan pilihan yang tepat merupakan salah satu bentuk balas budi kita kepada bangsa. Jalankan gongyo dan daimoku agar kita mampu mematangkan jodoh untuk mendapatkan asupan informasi yang benar dan memadai, memunculkan prajna agar pilihan kita merupakan pilihan terbaik diantara banyaknya pilihan yang tersaji. Doa untuk bangsa dan negara, doa supaya pemilu kali ini berjalan lancar, damai, dan akan menghasilkan para pengelola bangsa yang dapat diandalkan, berdedikasi, dan bertanggung jawab terhadap kemakmuran bangsa Indonesia. §

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s