Konsultasi Kehidupan

Kenapa ada yang beranggapan memelihara hewan lebih baik daripada membesarkan manusia?

Munculnya istilah yang demikian tentu didahului dengan pengalaman hidup manusia. Salah satu contoh istilah yang berkaitan dengan hal ini adalah, memelihara seekor anjing lebih setia atau loyal ketimbang mengandalkan kesetiaan manusia (dapat berkhianat). Tetapi apakah sedangkal itu penilaian Anda terhadap loyalitas atau kebaikan manusia lain? Dalam hidup, kita tidak bisa gampang-gampang menggeneralisasi hal-hal yang terjadi dalam hidup, apalagi ketika berkaitan dengan aspek manusia berserta sifat dan sikap yang melekat padanya.

Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks. Tidak ada satu pun manusia yang persis sama, meliputi ciri-ciri fisik, sifat, dan karakter. Itulah mengapa makhluk manusia dikatakan unik. Sebagai murid Niciren Daisyonin, kita juga belajar bahwa manusia memikul tumpukan karmanya masing-masing, dan dalam setiap kejap perasaan jiwa terdapat tiga ribu gejolak, yang tiap gejolak merupakan proses membuat sebab dan menanggapi akibat.

Manusia mempunyai sepuluh tingkatan perasaan jiwa, mulai dari perasaan jiwa yang neraka, kelaparan, kebinatangan, kemarahan, kemanusiaan, surga, pratekyabuddha, boddhisatva, dan perasaan jiwa tertinggi, yaitu kesadaran buddha. Dengan tingkatan perasaan jiwa seperti ini, manusia dapat memunculkan sikap yang lebih rendah dari binatang, namun juga bisa menjadi seorang Buddha.

Jika Anda lihat sekeliling Anda, begitu banyak fenomena kewelas-asihan manusia yang menyentuh hati; bagaimana manusia bisa mencurahkan kasih sayang dan maitri karuna terhadap manusia lainnya dan lingkungan tempat mereka hidup. Memang, di masa akhir dharma yang dipenuhi oleh tiga kekeruhan / kesesatan (san waku), yaitu kesesatan pandangan dan pikiran (kenji waku), kesesatan hawa nafsu yang tak terhitung (jinsya waku), dan kesesatan dasar pokok jiwa (mumyo waku), manusia menjadi lebih cenderung berada dalam perasaan jiwa di empat tingkat terendah, yaitu neraka, kelaparan, kebinatangan, dan kemarahan. Namun Anda dan sejumlah manusia berejeki lainnya yang sudah bertemu dengan Gohonzon—Nammyohorengekyo, tentu bisa menjadi manusia yang unggul dan memunculkan jiwa kesadaran buddha yang Anda miliki melalui pertapaan gongyo dan daimoku dengan hati yang tulus dan sungguh-sungguh.

Pertapaan memunculkan jiwa yang sadar bukan perkara instan dan sekali proses. Sekejap demi sekejap perasaan jiwa kita terus berubah. Yang harus kita lakukan, adalah memunculkan kesadaran buddha, sehingga kesadaran tersebut menjadi perasaan yang dominan dalam diri kita dalam menjalani hidup sehari-hari. Oleh karena itu, proses memunculkan kesadaran buddha dan mempertahankan kesadaran tersebut adalah proses seumur hidup, dan hendaknya kita tidak lengah terhadap terpaan pengaruh buruk dari lingkungan, maupun kesesatan dalam diri.

Kenapa hewan lebih peka dalam membalas budi daripada manusia?

Manusia kehilangan kepekaannya untuk membalas budi, apabila kecenderungan jiwa mereka lebih rendah dari dunia manusia. Tetapi apabila kita, setidaknya, menjadi manusia yang manusiawi, tentu cara kita membalas budi baik orang lain akan melebihi cara-cara yang ditempuh hewan untuk membalas budi, apalagi jika kita dapat mengembangkan kesadaran buddha di dalam diri kita, tentu balas budi yang kita lakukan adalah balas budi paling mulia yang dapat dilakukan oleh makhluk hidup.

Kenapa manusia bisa berubah setelah mereka dewasa, misalnya sifat dan kelakuan mereka?

Manusia dan makhluk hidup lainnya, hadir di dunia ini dengan membawa tumpukan karma masa lampau yang dimiliki masing-masing. Dalam hidup kali ini, disamping menuai akibat dari tumpukan sebab masa lampau kita, kita juga terus dalam proses membuat sebab-sebab baru. Dalam membuat sebab-sebab perbuatan, perkataan, maupun perasaan, kita tidak dapat mengabaikan faktor lingkungan. Lingkungan sangat berperan dalam pembentukan watak dan karakter seorang manusia, karena manusia belajar dari lingkungannya.

Sifat dan kelakuan manusia tentu bisa berubah seiring berjalannya waktu, karena setiap saat manusia terus menerima asupan informasi baru / pengaruh dari lingkungan, yang baik ataupun yang buruk. Perkembangan biologis juga berpengaruh, karena semakin Anda tumbuh dewasa, kemampuan otak Anda menyerap informasi dari lingkungan semakin bertambah dan secara simultan membentuk karakter diri Anda.

Sebagai ilustrasi / gambaran, jika Anda kerap melakukan refleksi pada masa lalu Anda yang Anda rasa jauh lebih indah daripada saat ini, itu karena pada masa kecil, Anda juga menanggapi lingkungan sekitar Anda dengan lebih polos dan apa adanya. Di dalam diri Anda juga tidak ada kecamuk emosi dan pertentangan dalam diri seperti yang sekarang Anda alami. Kenapa sekarang bisa demikian? Karena Anda hidup dalam lingkungan yang dinamis dan terus berkembang. Manusia secara alamiah belajar dari lingkungannya, terutama lingkungan terdekatnya, seperti keluarga dan teman sepermainan. Seiring Anda dewasa, Anda makin mampu menyerap pengaruh lingkungan Anda, pengaruh yang baik dan yang buruk. Pengaruh lingkungan ini yang turut membentuk sifat dan perilaku manusia.

Dengan menyebut Nammyohorengekyo di hadapan Gohonzon, kita akan mampu memunculkan sifat-sifat terbaik yang dimiliki manusia, yaitu sifat-sifat Buddha. Namun ini adalah pertapaan yang tidak mudah. Dalam satu hari saja (24 jam), berapa lama kita berada dalam pertapaan untuk semakin sadar? Mungkin hanya sekitar dua jam, pada saat melakukan gongyo dan daimoku. Sisanya? Kita diterpa oleh pengaruh lingkungan (televisi, teman sepermainan, rekan kerja, saudara, orang tua).

Tanpa adanya usaha untuk terus meningkatkan kekuatan hati kepercayaan (shin gyo gaku), kita akan mudah terbawa pengaruh yang tidak baik. Sebaliknya, dengan hati kepercayaan yang mantap dan tidak tergoyahkan, kita akan dapat memunculkan kesadaran untuk memilah-milih pengaruh yang baik untuk diri kita, dan mengabaikan pengaruh yang buruk. Malah, kita akan dapat membuat pengaruh baik / positif bagi lingkungan kita.

Kenapa manusia yang lahirnya dari satu ayah dan satu ibu (sekandung) bisa berbeda sifat? Apakah itu karma? Atau pembawaan lahir?

Tentu saja bisa! Bahkan anak kembar sekalipun dapat memiliki sifat yang sangat berbeda. Ya, tiap manusia membawa karma masa lampau masing-masing, yang terwujud dalam eksistensinya saat ini; penampilan fisik, sifat, watak. Lahir dan hidup dalam satu keluarga tertentu, berarti kita memiliki karma dan kecenderungan sifat jiwa yang serupa dengan anggota keluarga yang lain. Di satu waktu Anda bisa menilai diri Anda sangat berbeda sifat dengan saudara Anda, namun ketika Anda telaah kembali, Anda dan saudara Anda, termasuk ayah dan ibu Anda memiliki dasar kecenderungan sifat jiwa yang serupa.

Hukum karma itu adil dan apa adanya. Hal-hal yang Anda alami sepanjang hidup kali ini, adalah murni merupakan proses karma diri Anda sendiri. Lingkungan Anda hanya berfungsi sebagai jodoh untuk mematangkan karma perbuatan Anda di masa lampau. Sikap Anda saat ini dalam menanggapi karma Anda, secara langsung menjadi karma / sebab-sebab baru yang akan menentukan kehidupan Anda di masa yang akan datang.

Bagaimana cara kita menyikapinya apabila kita sudah melakukan kebaikan / pertolongan terhadap sesama tetapi selalu disalah artikan / dianggap kita itu tidak benar? Kenapa bisa seperti itu?

Bisa jadi ada yang kurang tepat dalam penyampaian bantuan atau kebaikan Anda terhadap orang tersebut. Mungkin ketika Anda menyampaikan bantuan, Anda menyampaikannya dengan perasaan hati yang kurang tulus, atau menyimpan pamrih. Selain itu, hal yang Anda pikir sebagai hal yang baik dan dapat membantu orang, belum tentu baik bagi mereka. Anda tidak bisa menyamaratakan sifat dan kebutuhan orang lain sama seperti sifat dan kebutuhan Anda.

Oleh karena itu, Anda sepatutnya perlu melakukan pendekatan lebih jauh terhadap lingkungan Anda, orang-orang di sekitar Anda, sehingga Anda dapat lebih memahami mereka dan membantu mereka secara tepat. Perlahan, Anda akan dapat melihat, hal-hal apa yang sebenarnya mereka butuhkan, bukan hal-hal yang Anda pikir mereka butuhkan. Dalam hal ini, sikap empati atau menempatkan diri Anda pada situasi orang lain secara seksama menjadi poin penting dalam mengembangkan sikap saling menghargai dan memahami.

Sebagai murid Niciren Daisyonin, hendaknya Anda selalu percaya bahwa hukum karma senantiasa berjalan. Niat baik kita yang berasal dari hati yang tulus, dengan sendirinya akan menjadi tumpukan sebab-sebab baik kita, tanpa terlebih dahulu harus diterima atau diapresiasi oleh orang yang kita tuju. Jangan berhenti melakukan kebaikan hanya karena niat baik kita sesekali ditolak atau disalah-artikan dengan orang lain. Proses pendewasaan diri Anda disertai bimbingan Buddha Niciren akan semakin membuat Anda memahami diri Anda sendiri dan orang lain.

Apakah kita yang salah dalam melakukan hal suatu kebaikan?

Kebaikan dan keburukan bukanlah hal yang sederhana. Kita sebagai manusia biasa kadang tidak bisa membedakan hal mana yang sesungguhnya baik, atau sebaliknya justru tidak membawa kebaikan. Agar penilaian kita terhadap hal baik dan buruk tepat, kita perlu memunculkan kesadaran buddha yang dapat dicapai melalui jodoh Gohonzon—Nammyohorengekyo serta pelaksanaan shin gyo gaku (percaya, belajar, melaksanakan) terhadap ajaran Niciren Daisyonin secara konsisten dan penuh kesungguhan. Saat kita berada di dunia buddha, kita akan mampu memunculkan prajna buddha dalam pemikiran kita, sehingga kita mampu menilai dan menyikapi hal-hal di sekitar kita secara jernih dan tepat. ‘Tepat’ di sini berarti tindakan kita sesuai dengan ajaran Niciren Daisyonin, sehingga pasti mampu memberikan kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang lain.

Kenapa manusia selalu menyesali menyesali segala perbuatannya setelah tiba menjelang ajal / kematiannya?

Rasa sesal muncul ketika kita telah melakukan suatu perbuatan, dan perbuatan tersebut mengakibatkan hal yang tidak kita inginkan terjadi. Bisa juga ketika ada hal-hal yang kita bisa lakukan di masa lalu, tetapi kita tidak lakukan, dan pikiran tentang kemungkinan masa kini atau masa depan yang lebih baik apabila kita dulu melakukan hal tersebut, mulai datang; kita menyesal.

Pada dasarnya, kita menyesal karena kita tidak bisa menerima kenyataan, kita lari dan bersembunyi dari kenyataan di balik pemikiran-pemikiran kita tentang penyesalan. Selanjutnya kita mulai mengasihani diri kita sendiri, dan dalam hati kecil berhadap datangnya bantuan dari luar diri, berharap lingkungan sekitar juga menaruh perhatian pada kita, merasa putus asa dan tidak berdaya, dan seringkali keputusasaan makin mendalam karena ulah kita sendiri yang tidak mau bangkit dan malah ‘menikmati’ penderitaan.

Umumnya manusia mencapai puncak penyesalan ketika mereka sakit parah atau menjelang kematiannya. Kenapa bisa demikian? Karena pada saat mereka hidup, mereka tidak hidup dalam realitas. Mereka tidak memaksimalkan hidup mereka dengan hal-hal yang dapat membahagiakan mereka. Kata-kata mendasar dalam penyesalan umumnya, “seandainya saya bisa berbuat lebih baik waktu itu, seandainya saya bisa bersikap lebih baik kepada orang tua, seandainya saya…” dan beragam pengandaian lainnya yang tak habis-habis.

Kita manusia sebenarnya mempunyai kemampuan untuk belajar dari pengalaman diri sendiri di masa lalu atau dari pengalaman orang lain, agar kejadian serupa yang telah dialami dapat kita antisipasi dan sikapi dengan lebih baik. Jika mau belajar dari pengalaman, kita juga tidak akan tenggelam dalam penyesalan permasalahan yang sama sampai dua kali. Dengan tingkat kesadaran diri yang cukup, Anda akan mampu menilai, sikap dan perilaku seperti apa yang kelak dapat Anda sesali. Anda akan lebih mampu memberdayakan dan mengendalikan diri Anda sesuai dengan ajaran Buddha.

Agar Anda tidak menghabiskan hidup Anda yang berharga dengan penuh penyesalan, Anda perlu menjalankan pertapaan gongyo dan daimoku secara konsisten dan sungguh-sungguh, membuka diri Anda, membangun interaksi sosial yang positif dengan orang-orang di sekitar Anda. Munculkan kesadaran dan kemawasan diri atas segala perasaan dan sikap yang ada pada diri Anda. Dengan percaya, belajar, dan melaksanakan dharma dengan tulus dan konsisten, pasti Anda akan menjalani hidup secara maksimal, dan Anda dapat berbuat lebih banyak kebaikan, daripada terjebak dalam pemikiran-pemikiran destruktif / merusak yang tak berujung. Hiduplah pada saat ini, jadikan kejadian di masa lalu sebagai pengalaman, untuk mewujudkan masa depan yang lebih bahagia.

Kenapa manusia selalu egois?

Kecenderungan manusia bersikap egois karena dalam kehidupan sehari-hari, perasaan jiwanya lebih sering berada di empat dunia buruk, terutama dunia keserakahan. Anda dan manusia-manusia lainnya bisa menjadi manusia yang lebih baik, bahkan lebih dari itu, dengan menyebut Nammyohorengekyo, belajar dharma, dan mengamalkan dharma tersebut dalam kehidupan sehari-hari, kita semua bisa menjadi Buddha; menjadi orang yang penuh kesadaran, bijaksana, welas asih dan maitri karuna.

Perasaan jiwa yang egois dapat kita landasi dengan kesadaran buddha, sehingga perasaan jiwa egois yang secara wajar ada di dalam diri kita, dapat kita arahkan menjadi kekuatan jiwa yang positif dan konstruktif, yang berguna bagi diri kita dan orang lain. Hal ini juga berlaku untuk perasaan jiwa buruk lainnya, seperti kemarahan, kebinatangan, dan neraka.

Memunculkan dasar kesadaran dunia buddha dalam diri kita, hanya dengan menyebut Nammyohorengekyo dengan tulus dan sungguh hati, melaksanakan pertapaan gongyo dan daimoku secara konsisten, belajar dharma buddha di susunan NSI, dan untuk menyelaraskan itu semua, kita harus mengamalkan dharma buddha dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, hidup kita akan semakin berkualitas, bermakna, dan bahagia.

Bagaimana cara kita menjelaskan kepada orang lain bahwa segala yang kita lakukan itu demi kebaikannya?

Kemampuan orang untuk menyampaikan atau menerima informasi atau pesan dengan baik tergantung perasaan jiwa orang tersebut ketika proses penyampaian pesan tersebut berlangsung. Apabila Anda merasa pesan Anda tidak diterima secara tepat oleh orang lain (ditolak atau disalahartikan), mungkin Anda menyampaikan pesan tersebut secara kurang baik, misalnya dalam keadaan emosi, marah-marah. Atau mungkin orang tersebut yang perasaan jiwanya sedang kalut, sehingga tidak bisa menerima pesan atau informasi secara jernih.

Buddha Niciren mengajarkan, bahwa segala yang terjadi pada diri kita, mulai dari hal yang baik sampai hal yang paling buruk sekalipun, pada dasarnya adalah tanggung jawab kita sendiri, karena semua hal tersebut tak pernah lepas dari proses perputaran karma kita masing-masing. Karena tanggung jawab sendiri itulah, kita juga harus menyadari bahwa kita memiliki kendali penuh atas diri kita dan kehidupan seperti apa yang kita ingin wujudkan. Terkadang kita merasa tidak berdaya, membutuhkan bantuan dari pihak luar, dan kerap menyalahkan lingkungan atas keburukan dan kemalangan yang menimpa kita. Pemikiran yang seperti itu yang membuat kita sulit untuk berkembang, karena kita sendiri seolah-olah seperti ‘menikmati’ kemalangan kita dengan terus berkeluh-kesah dan tidak melakukan tindakan nyata untuk merubah nasib dan keadaan menjadi lebih baik.

Terkadang niat baik itu sudah muncul, tetapi karena kecenderungan jiwa kita masih buruk, perwujudan dari niat baik itu tidak disertai dengan sikap penyampaian dan penanggapan yang positif. Kita dengan angkuhnya menyampaikan niat baik kita dengan marah-marah dan terkesan memaksakan kehendak.

Coba kita mundur beberapa langkah untuk melihat segala situasi dari sudut pandang yang lebih luas. Pada dasarnya dalam menanggapi satu permasalahan, kita tidak bisa hanya melihat dan menawarkan solusi dari satu sisi saja. Ibarat orang buta yang mendeskripsikan gajah. Yang satu memegang gajah di belalainya, dan mengatakan bahwa gajah itu panjang, seperti pipa elastis, dan memiliki dua lubang di ujungnya. Yang satu lagi memegang gajah di telinganya, mengatakan bahwa gajah lebar seperti daun, lunak, dan sedikit berambut. Yang terakhir memegang gajah di bagian kakinya, menggambarkan gajah sebagai hewan yang berkulit keras, kasar, dan sebesar rangkulan tangan orang dewasa.

Dari perumpamaan di atas, ketiga orang buta tersebut menggambarkan gajah secara parsial. Untuk mendekati gambaran gajah yang lebih sempurna dan mendekati kebenaran, mereka harus saling mengomunikasikan pandangan mereka, dan mencoba untuk menjelajahi bagian lain dari gajah tersebut, tidak bisa hanya dari satu bagian tertentu saja. Begitu pula halnya ketika kita hendak menyelesaikan masalah dan menawarkan solusi. Hasil pemikiran kita dan pandangan kita hanyalah satu dari sekian banyak sudut pandang yang dapat ditempuh dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Komunikasi dan empati menjadi dua aksi yang sangat penting dalam pencapaian rasa saling mengerti, apa yang kita sampaikan dapat tersampaikan dengan baik dan tepat sasaran. Keinginan dan pesan yang disampaikan oleh orang lain juga dapat kita tanggapi dengan positif, sehingga akhirnya sampai pada satu titik kesepahaman yang mempertemukan maksud Anda dan orang lain.

Daimoku dengan penuh kesungguhan, rasa terima kasih atas hal-hal baik yang kerap luput dari perhatian kita, seperti masih bisa hidup sampai saat ini, dalam keadaan sehat, memiliki kecukupan sandang, pangan, papan, masih dapat berkumpul bersama keluarga, dan lain-lain. Jika saja kita mau terus-menerus mengembangkan pikiran dan perasaan positif dari hal-hal kecil namun mendasar seperti di atas, tentu kita akan lebih mawas terhadap perasaan diri kita sendiri, dan merasakan kedamaian yang ingin selalu kita pelihara, daripada terus berkecamuk dalam perasaan empat dunia buruk yang destruktif dan melelahkan.

Bagaimana cara konsentrasi penuh dalam gongyo dan daimoku agar kita bisa tenang dan lancar tanpa gangguan daya imajinasi lainnya?

Pikiran kita secara alamiah tidak akan pernah berhenti berjalan, bahkan di saat tidur sekalipun, pikiran tersebut kita sadari sebagai mimpi. Saat kita melakukan gongyo dan daimoku, yang harus kita lakukan adalah menyadari bahwa kita sedang melakukan gongyo dan daimoku, kesadaran ini akan membuat kita mampu mengendalikan pikiran kita.

Ketika melaksanakan gongyo dan daimoku, kita juga perlu memperhatikan sikap tubuh kita, seperti duduk dengan tegak, tangan dikatupkan di depan dada, pandangan melihat Gohonzon, tidak melakukan aktivitas sambilan lain (mendengar TV, membersihkan kuku), dan kita harus konsisten bersikap seperti ini sepanjang melakukan daimoku dan gongyo. Pikiran dan gerak tubuh saling mempengaruhi. Apabila kita menanamkan dalam benak kita, bahwa ketika kita melakukan gongyo dan daimoku kita sedang dalam suasana dunia buddha, dan digambarkan dalam gosyo sebagai upacara antariksa yang suci.

Oleh sebab itu, sudah sepatutnya kita menghargai pelaksanaan gongyo dan daimoku yang kita jalani dengan penuh kesungguhan hati dan sikap tubuh yang baik. Dengan sendirinya, kita akan terfokus pada upaya menjalankan upacara gongyo dan daimoku secara baik dan benar.

Dengan munculnya kesadaran untuk mengagungkan Gohonzon serta pelaksanaan gongyo dan daimoku, kita dapan menekan gejolak pikiran-pikiran kita yang ngalor-ngidul. Selanjutnya, yang muncul adalah pikiran-pikiran atau prajna yang memikirkan kebahagiaan orang lain dan kesadaran penuh bahwa saat itu kita tengah melakukan gongyo dan daimoku. di kala tidak sadar, bisa saja tubuhnya gongyo dan daimoku di depan Gohonzon, tetapi pikirannya sedang jalan-jalan ke Bali, atau sedang mencaci maki orang yang ada di rumah sebelah.

Getaran dari penyebutan Nammyohorengekyo yang sungguh-sungguh dan setulus hati, akan membangkitkan kesadaran buddha dari dalam diri yang muncul dari kesadaran pokok kita, dan dari diri yang sadar, Anda akan mampu menjalani kehidupan sehari-hari Anda dengan bahagia, apa adanya.

Kenapa persaudaraan bisa pecah?

Persaudaraan bisa pecah, jika di antara saudara tersebut tidak ada keinginan dan upaya untuk mempertahankan persaudaraan mereka. Banyak faktor memang yang dapat menyebabkan keretakan di dalam keluarga, tapi secara umum dapat dikategorikan menjadi faktor eksternal dan faktor internal.

Faktor eksternal mencakupi pembinaan keluarga yang tidak baik, cerminan perilaku orang tua yang tidak mendidik, seperti kekerasan dalam rumah tangga dan perlakuan yang tidak adil antara anak yang satu dengan yang lainnya. Lingkungan pergaulan juga memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk pola pikir anak, seperti misalnya anak menerima pengajaran yang tidak tepat mengenai ukuran kebaikan dan keburukan keluarga, yang diukur melalui materi atau perlakuan keluarga yang terlihat secara kasat mata, tanpa memedulikan makna kebaikan dibalik perlakuan tersebut. Orang lain / teman lalu dijadikan tempat bersandar daripada keluarga sendiri. Hal ini dapat terjadi, kembali lagi karena kurang optimalnya orang tua dalam membina keluarga.

Faktor yang satu lagi ditinjau dari perspektif Buddhisme, yaitu faktor internal, mengacu kepada tumpukan karma masa lampau kita. Adalah jodoh yang sangat kuat antara satu manusia dengan manusia lainnya bisa lahir dan hidup dalam satu keluarga tertentu. Itu karena kita sekeluarga pada dasarnya memiliki dasar kecenderungan jiwa yang serupa, dan memiliki ikatan masa lampau yang kuat juga. Jika misalnya Anda lahir dalam satu keluarga, dan memiliki saudara namun Anda berdua tidak pernah akur, Anda perlu menyadari realitas tersebut adalah bagian dari karma hidup Anda, bukan salah orang tua atau saudara Anda. Mereka hanya berfungsi sebagai jodoh untuk mematangkan karma Anda.

Kita harus bisa menerima segala aspek baik dan buruk yang dimiliki oleh keluarga kita, karena sedikit-banyak, cerminan perilaku mereka ada di dalam diri kita. Menolak keberadaan mereka sama dengan menolak keberadaan diri Anda sendiri. Hal ini juga berlaku pada perlakuan kita terhadap lingkungan hidup kita yang lebih luas.

Jika misalnya Anda sudah sampai pada tahap di mana Anda sangat tertekan bila berada dekat dengan keluarga atau saudara Anda, dengan kesadaran yang masih Anda miliki, duduk di depan Gohonzon, tobat, munculkan perasaan mendalam bahwa Anda ingin mematahkan kesesatan diri sendiri yang selama ini kerap menutup pancaran kesadaran diri Anda, sehingga hidup Anda selama ini penuh dengan kekeruhan dan ketidakbahagiaan.

Mulailah dari detik ini juga untuk mengembangkan jiwa buddha Anda, jalankan gongyo dan daimoku secara sungguh hati dan konsisten, belajar ajaran Buddha Niciren di susunan untuk kemudian Anda amalkan dalam kehidupan Anda sehari-hari. Niscaya, Anda akan berpikir dan menanggapi realitas hidup Anda secara lebih positif dan lebih bijak. Anda akan mulai melihat perselisihan di antara saudara bukan hal yang permanen dan dari sananya, tetapi hubungan yang bisa Anda perbaiki dan sudah sewajarnya dijaga dan dipertahankan agar terus harmonis.

Hal ini juga ada kaitannya dengan kebiasaan pola berpikir kita. Kita harus mulai membiasakan untuk mengarahkan pola pikir kita ke pola pikir yang berorientasi diri  ketimbang pola pikir yang berorientasi orang lain. Maksudnya, seperti dalam contoh, ketika Anda bersikap baik kepada saudara Anda, hal tersebut Anda lakukan bukan karena tuntutan atau kewajiban anggota keluarga, tetapi karena Anda sadar bahwa itu adalah hal baik yang dapat memberikan kebahagiaan kepada saudara Anda.

Jika Anda masih belum bisa merasa bahagia jika orang lain bahagia, malah merasa bahagia bila orang lain menderita, berarti kesadaran Anda masih tenggelam, ditutupi keruhnya tiga racun. Anda harus sampai pada tahap di mana Anda merasa bahagia bila orang lain bahagia, dan merasa sedih atau susah hati jika orang lain menderita, siapa pun orang itu, apalagi orang yang dekat dengan kita seperti keluarga, sudah sewajarnya kita memberikan perhatian lebih.

Jadikan saat Anda gongyo dan daimoku sebagai momen untuk memunculkan kesadaran, mengungkapkan terima kasih atas segala rejeki yang Anda alami selama ini, sekecil apapun itu, berterima kasih pula terhadap hal-hal buruk yang menimpa Anda sehingga Anda dapat menemukan hikmah baik dari segala peristiwa yang terjadi dalam hidup Anda.

Padamkan bara amarah dan emosi dalam diri Anda dengan sumber air kesadaran yang Anda miliki, yang sempat tersumbat selama ini karena pelaksanaan hati kepercayaan yang setengah hati. Sudah cukuplah Anda berkeluh-kesah ketika gongyo-daimoku, mengasihani diri, terjebak dalam ‘kenikmatan’ penderitaan hidup. Saatnya Anda bangkit. Perluas wawasan Anda, dan lihatlah dunia di sekeliling Anda, masih banyak hal membahagiakan yang dapat Anda lakukan untuk kebahagiaan diri sendiri dan orang lain.

Kenapa manusia selalu berpikiran picik dalam menyikapi hidup dan perilaku seseorang atau manusia lainnya?

Pola pikir manusia tidak terbentuk begitu saja. Pola pikir manusia merupakan hasil dari sosialisasi nilai-nilai kehidupan yang manusia dapatkan selama mereka hidup yang diperoleh dari lingkungan yang dekat dengan mereka. Jika saat ini Anda semakin sering menemukan orang-orang yang memiliki kecenderungan berpikir secara picik, dan mungkin termasuk kita, itu juga dikarenakan kita hidup di masa akhir dharma yang penuh kekeruhan batin, sesuai seperti kondisi yang diramalkan Buddha Sakyamuni.

Kekeruhan batin manusia masa akhir dharma bukan muncul begitu saja. Kekeruhan ini muncul akibat tumpukan karma buruk manusia yang semakin banyak dan memperkuat akar kesesatan pokok jiwa manusia. Faktor dominan adalah lingkungan hidup dan perkembangan jaman. Banyak terpaan informasi dengan muatan negatif berseliweran di sekitar kita, dan bila kita tidak memiliki jiwa yang kuat dan cara berpikir yang benar, kita akan tergoda dan melakukan perbuatan buruk, yang cenderung lebih mudah dilakukan daripada berbuat baik dalam masa akhir dharma.

Namun, ketika Anda bisa memunculkan kesadaran buddha secara konsisten melalui pelaksanaan gongyo dan daimoku, Anda akan menemukan diri Anda mampu menyeleksi pengaruh-pengaruh lingkungan yang datang kepada Anda, Anda memiliki prajna untuk melakukan hal-hal yang positif dan tidak melakukan hal yang negatif.

Jika Anda melihat diri Anda kerap dipenuhi dengan kepicikan berpikir, dan Anda sadar akan hal itu, langkah selanjutnya adalah mengalihkan pikiran Anda ke hal-hal yang lebih membangun. Rasa picik adalah perasaan jiwa yang berasal dari akar pokok kesesatan jiwa. Kita tidak dapat menghilangkannya, tetapi kita dapat menenggelamkannya dan melandasi kesesatan jiwa ini dengan kesadaran. Jangan biarkan kesesatan yang mendominasi diri kita, kita harus mengupayakan sebaliknya.

Anda sebagai pihak yang memiliki kendali penuh atas diri Anda dan hidup Anda, maka aturlah diri dan hidup Anda seoptimal mungkin dengan sikap-sikap baik dan perasaan jiwa yang gembira. Anda tidak bisa terus berharap orang lain akan mengerti kita atau bertindak sesuai kemauan kita. Jika Anda menemukan orang yang picik, bimbinglah dia sesuai ajaran Buddha Niciren. Jika Anda belum bisa sampai pada tahap membimbing, setidaknya jangan biarkan diri Anda terpengaruh lebih jauh oleh kepicikan orang tersebut. Anda harus tetap mengacu pada nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan yang tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Kenapa manusia selalu iri hati  jika ada orang yang lebih baik dalam hidupnya dan selalu senang dan bahagia apabila orang lain lebih susah darinya? Kenapa seperti itu?

Manusia yang demikian adalah manusia yang jiwanya dikuasai oleh kesesatan. Lingkungan masa akhir dharma cenderung dipenuhi oleh banyak akses terhadap hal-hal yang mengarahkan diri kita pada kesesatan jiwa. Lihat saja misalnya, isi tayangan media televisi yang banyak menayangkan pemberitaan artis yang mengeksploitasi sisi penasaran penonton. Rasa keingintahuan penonton terus dirangsang, dan tanpa disadari mengembangkan jiwa ‘bergosip’ penonton dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya itu, gambaran kehidupan di film atau sinetron yang penuh keglamoran tanpa didahului dengan penjelasan memadai mengenai bagaimana memperoleh kehidupan seperti itu, membuat penonton terbuai dalam kehidupan yang serba instan.

Yang harus kita sadari bersama, kesesatan jiwa (pada akhirnya) selalu membawa manusia pada ketidakbahagiaan dan kehancuran. Sedangkan kesadaran jiwa membawa manusia pada kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan, bahkan disaat situasi lingkungan sedang kacau, kita mampu menarik hikmah baik dari keadaan tersebut. Oleh karena itu, jangan pernah menyerah untuk berbuat dan bersikap baik, bahkan disaat sepertinya lingkungan di sekitar Anda selalu berbuat jahat kepada Anda. §

Pertanyaan-pertanyaan diajukan oleh umat Buddha NSI dan saya jawab berdasarkan pengaplikasian Buddhisme Niciren Syosyu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s