Dasar Pemikiran dalam Membangun Kerukunan

Kerukunan antar umat beragama pada dasarnya menuntut kedewasaan dan kematangan tiap individu dalam berpikir dan bersikap atau berinteraksi dengan individu-individu atau kelompok sosial lainnya. Kedewasaan dan kematangan berpikir rupanya juga bukan sesuatu yang stagnan, melainkan terus bergejolak, sesuai dengan status perasaan jiwa seseorang. Oleh karena itu, kedewasaan berpikir dan bersikap berkaitan dengan stabilitas status emosional dan spiritual orang tersebut.

Kedewasaan atau kematangan berpikir dan bersikap dalam hidup adalah hal yang sangat penting, karena di dalam kedewasaan terkandung unsur-unsur pemahaman, empati, dan kebijaksanaan yang sangat dibutuhkan dalam menyongsong kehidupan yang manusiawi. Kedewasaan dapat dicapai dengan proses menghadapi dan mengatasi masalah selama hidup. Untuk menghadapi dan mengatasi berbagai masalah yang ada, manusia membutuhkan bekal pengetahuan dan spiritual untuk menalarkan pengalaman dan fenomena yang terjadi dalam hidupnya ke dalam sebuah pemahaman yang benar mengenai hal yang baik dan buruk, untuk kemudian berpikir lebih jauh mengenai akibat yang akan terjadi apabila suatu aksi dilakukan.

Di dalam agama Buddha, aksi di sini tidak sebatas aksi fisik, namun juga mencakup aksi dalam berpikir dan berucap. Oleh karena itu, dalam ajaran Buddha, dikenal adanya tiga karma, yaitu karma badan, karma mulut, dan karma hati / pikiran. Ketiga karma tersebut secara aktif bersinergi dalam membentuk kehidupan yang kita jalani. Karma mulut dan karma hati pun dapat termanifestasi ke dalam sebuah akibat nyata. Dengan demikian, pengendalian yang bijak terhadap aksi, ucapan, dan pikiran kita akan mewujudkan kita sebagai diri yang dewasa. Kedewasaan ini akan mampu mengarahkan aksi, ucapan dan pikiran kita untuk menghasilkan sikap hidup yang mawas dan memberikan manfaat positif bagi kemaslahatan lingkungan dan orang lain.

Agama adalah lampu yang menerangi setiap langkah kita dalam menyusuri jalan setapak menuju hidup yang bernilai dan bahagia. Banyak orang-orang hebat di dunia ini yang hidup penuh nilai positif dan bermakna, menjadikan ajaran agama sebagai landasan perjalanan hidup mereka dalam menemukan kebahagiaan.

Pembinaan yang berkelanjutan akan membawa umat, bersama-sama dengan pemuka agama kepada satu stabilitas dan konsistensi kedewasaan bersikap dan berpikir. Jika stabilitas ini dapat terwujud dalam setiap umat beragama, akan terwujud masyarakat Indonesia yang dewasa dan luhur. Terjalin interaksi positif antar manusia dari berbagai latar belakang yang berbeda. Perbedaan akan dipandang sebagai satu keindahan dan kekayaan yang dimiliki bersama.

Dengan sendirinya, manusia yang dewasa akan berinteraksi secara positif dengan manusia lainnya. Selain itu, manusia punya kecenderungan untuk mempengaruhi manusia lainnya. Jika antar manusia dapat saling menularkan pengaruh positif, tidak mustahil dunia akan menjadi satu global village yang damai, rukun, dan harmonis.

Berikut identifikasi permasalahan aktual bangsa Indonesia pada tataran yang paling dasar, yaitu keluarga. Peran keluarga sangat penting dalam mencetak individu-individu yang berkualitas di dalam masyarakat. Jika unit terkecilnya kokoh, ekologi sosial dalam tataran yang lebih tinggi pasti akan kokoh pula, dan pada akhirnya akan tercipta bangsa yang kuat dan bersatu.

Keluarga

  • Orang tua perlu memiliki akhlak yang luhur dan wawasan yang memadai dalam membina akhlak dan watak anak, memperkenalkan mereka pada nilai-nilai moral kebaikan (simpati, empati, sederhana, kasih sayang, dan lain-lain), nilai-nilai positif agama, pengenalan nilai-nilai kebaikan dan kejahatan, mana yang harus dan mana yang tidak boleh dilakukan, pemahaman atas nuansa hidup multikultural yang dimiliki Indonesia sebagai satu kekayaan bangsa yang perlu dirasakan sebagai bagian dari kekayaan diri sendiri, bukannya sebagai perbedaan yang harus dimusuhi, apalagi dihilangkan. Oleh karena itu, orang tua perlu aktif dalam menuntut ajaran agama dan mengimplementasikan hal tersebut dalam hidup dan keluarga mereka.
  • Sedari dini, orang tua perlu mengajak anak mereka dalam aktivitas keagamaan.
  • Peran aktif orang tua dalam mengawasi dan mengarahkan ruang lingkup pergerakan anak di luar rumah, bukan dalam arti mengekang. Mengarahkan pergaulan mereka di lingkungan yang konstruktif, tau dengan siapa mereka bergaul, dan berupaya agar komunikasi antara orang tua dan anak lancar dan harmonis.
  • Di sekolah, mata pelajaran agama lebih diarahkan agar lebih praktis dan lebih berorientasi pada pemantapan akhlak dan moral siswa. Pencapaian positif mata pelajaran agama tidak hanya pada menghafal sejarah perkembangan agama dan mempraktikkan ibadah.
  • Memperkenalkan dan mengarahkan anak pada beragam aktivitas konstruktif yang menyenangkan, seperti belajar bahasa asing, permainan alat musik, kegiatan cinta lingkungan hidup, olah raga, pemanfaatan teknologi, dan lain-lain, sehingga mereka dapat menemukan bakat dan minat mereka sedari dini untuk didalami dan pada akhirnya menjadi anak bangsa yang mampu berkontribusi pada pengembangan bangsa Indonesia.
  • Orang tua harus dapat mencukupi kebutuhan sandang, pangan, dan papan keluarga secara memadai agar kesehatan keluarga terjamin. Perencanaan untuk menambah jumlah anggota keluarga harus diimbangi dengan kemampuan secara finansial dan emosional untuk menjamin dan membina kelangsungan anggota keluarga.
  • Penciptaan suasana kehidupan keluarga yang harmonis dan tenteram.

Karena kerukunan hidup beragama di Indonesia menjadi isu yang krusial, maka hubungan antar pemuka atau antar umat beragama perlu ditelaah dan dicarikan benang merah yang menghubungkan mereka, yaitu menyadari bahwa kita adalah ‘manusia’, memiliki akal-budi dan kreativitas yang membedakan kita dengan makhluk hidup lainnya. Kita harus memberdayakan kemanusiaan kita untuk mewujudkan hidup yang manusiawi antar manusia. Adanya agama beserta ajarannya memudahkan kita dalam memahami kemanusiaan yang kita miliki, bahkan menyentuh aspek spiritual yang menyadarkan kita bahwa kita bisa melakukan kebaikan yang tulus di tengah keruhnya jaman.

Hubungan antar pemuka/antar umat beragama

  • Pada hakekatnya kita tidak bisa menyamakan semua agama. Masing-masing agama memiliki prinsip dan karakteristiknya masing-masing. Agama juga terbagi atas sekte-sekte, yang juga berbeda antara sekte yang satu dengan sekte yang lain. Jika semua agama itu sama, maka seharusnya hanya ada satu agama di dunia ini. Wilayah irisan yang dimiliki agama-agama yang benar adalah mengajarkan nilai-nilai kebaikan, moral, dan cara hidup yang positif bagi umatnya.
  • Dialog antar pemuka atau umat agama menjadi sarana yang sangat penting dalam menyebarkan nilai-nilai positif agama sehingga menjadi aktual bagi kebaikan bersama umat manusia. Akan tetapi, pihak-pihak yang terlibat dalam dialog harus memiliki pemahaman yang mendasar mengenai agama yang mereka anut, sehingga tidak terjebak pada retorika agama mana yang paling benar.
  • Secara historis, bangsa Indonesia dirugikan oleh politik yang memecah belah bangsa dengan provokasi antar suku, ras, etnis, dan agama. Hal ini sedikit-banyak menyisakan ‘luka’ bagi masyarakat dan menimbulkan stereotip yang merugikan bagi integrasi bangsa. Untuk mengembalikan pencitraan positif hubungan antar suku, ras, etnis, dan agama butuh proses dan peran aktif pemuka agama untuk memberikan pemahaman yang benar mengenai hubungan antar manusia, disamping hubungan antara manusia dengan lingkungan dan hubungan antara manusia dan aspek spiritualnya.
  • Persatuan dan kesatuan bangsa hendaknya tidak sebatas penyeruan yang menggebu-gebu dalam forum antar agama (eksternal). Kontribusi aktif tercermin dari pembinaan ke dalam (umat), pengarahan yang benar tentang esensi pencapaian persatuan dan kesatuan bangsa, bahwa ada tujuan bersama yang luhur yang harus kita capai dengan persatuan dan kesatuan, yaitu kehidupan yang aman, damai, tenteram, sejahtera, adil dan mamur, seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945, yang merupakan cita-cita bangsa Indonesia.
  • Dasar keinginan atau niatan untuk menjalin hubungan baik antar umat beragama atau pemuka agama harus berasal dari hati yang tulus untuk saling memahami dan membantu. Selain untuk menciptakan hidup damai dan harmonis, menjalin hubungan baik antar manusia dari latar belakang apapun menunjukkan eksistensi kita sebagai makhluk manusia yang manusiawi.
  • Para pemuka agama perlu memiliki wawasan mengenai ajaran agama lain sebagai asupan informasi bagi para pemuka agama untuk semakin mendalami dan memahami ajaran agamanya, bukan untuk menyerang pemeluk agama lain.
  • Para pemuka agama harus memiliki kedekatan emosional dengan umat yang dibinanya. Memiliki pengetahuan yang memadai tentang kondisi umatnya secara umum (secara personal apabila memungkinkan), tau permasalahan aktual yang terjadi pada umat dan bertanggung jawab untuk memberikan pendekatan ajaran agama terhadap permasalahan tersebut, sehingga mereka merasa mampu dan berdaya untuk mengatasi permasalahan hidup mereka. §
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s