Krisis Global dan Bagaimana Menyikapinya

Beberapa bulan belakangan ini, di dalam pemberitaan media massa, ramai dibahas isu mengenai krisis global. Namun banyak orang yang tidak sepenuhnya paham dan tahu latar belakang munculnya krisis global yang sedang terjadi dan dampaknya bagi negara Indonesia. Lalu bagaimana seharusnya kita sebagai umat Buddha, murid Niciren Daisyonin, harus menyikapi situasi krisis yang melanda, apapun itu, baik krisis global, krisis rumah tangga, krisis kesehatan, dan lain-lain. Karena pada dasarnya segala krisis atau permasalahan yang dihadapi manusia, dapat diselesaikan dengan menjalani ajaran Buddha.

Apa itu Krisis Global?

Krisis adalah satu keadaan atau kondisi gawat yang dikarenakan terjadinya musibah atau hal tak terduga. Hal ini membuat keadaan menjadi tidak stabil dan menghasilkan dampak yang buruk bagi kinerja subjek. Global adalah cakupan kewilayahan dunia, yang meliputi berbagai  negara. Dengan demikian krisis global dapat dipahami sebagai ketidakstabilan kondisi negara-negara di berbagai belahan dunia dalam waktu yang hampir bersamaan dalam berbagai sektor kehidupan, khususnya saat ini sektor finansial, dikarenakan imbas negatif yang sifatnya menular dari satu negara ke negara lainnya.

Orang cenderung hanya mengatakan ‘krisis global’, yang masih dapat menimbulkan kebingungan. Sebenarnya istilah ‘krisis global’ yang ramai dibicarakan mengacu pada krisis finansial atau keuangan. Krisis global ini dimulai dari Amerika Serikat (AS). Pemerintah AS memberlakukan kebijakan pemberian kredit perumahan secara mudah kepada warganya.

Kemudahan ini membuat banyak orang mengajukan kredit perumahan dan dikabulkan oleh bank, walau diketahui orang tersebut sepertinya tidak mampu untuk melunasi kredit dalam jangka waktu yang ditentukan. Selain itu, banyak pula warga yang memanfaatkan kebijakan ini sebagai peluang untuk membeli banyak rumah secara kredit.

Aksi-aksi tersebut pada akhirnya menimbulkan banyak kredit macet, karena banyak kreditor yang tidak mampu melunasi hutangnya. Hasilnya, banyak perusahaan properti yang bangkrut. Bank-bank mengalami kesulitan likuiditas, karena banyaknya kredit macet.

Produk domestik bruto (PDB) AS mencapai sekitar seperempat dari PDB dunia. Dengan demikian, krisis ekonomi yang melanda AS secara otomatis akan berimbas secara global atau mendunia. Akibatnya, pertumbuhan perekonomian dunia mengalami perlambatan. Beberapa negara maju yang memiliki keterkaitan finansial langsung dengan lembaga-lembaga keuangan besar di AS, seperti Uni Eropa, China, dan Jepang, terkena dampak besar dari krisis AS ini. Kebijakan Presiden AS, George W. Bush, dalam menganggarkan dana yang cukup besar selama Perang Irak juga menambah beban sektor finansial AS yang turut berkontribusi dalam krisis yang terjadi.

Indonesia pada dasarnya tidak terlalu terimbas dengan adanya krisis global ini, karena Indonesia dalam sektor finansial Indonesia tidak terlalu tergantung dengan negara AS. Imbas yang dirasakan dalam sektor finansial disebabkan oleh aksi investor asing yang berinvestasi di Indonesia, menjual sahamnya dalam jumlah besar untuk menutupi kredit mereka yang tersendat. Akibatnya banyak rupiah yang ditukarkan dengan dolar AS sehingga melemahkan nilai rupiah.

Melemahnya nilai rupiah membuat harga berbagai barang kebutuhan hidup, seperti pangan dan elektronik cenderung naik. Orang-orang yang hendak melakukan perjalanan ke luar negeri juga akan merasakan perbedaan biaya yang cukup signifikan antara hari ini dan empat bulan yang lalu, karena kurs mata uang di berbagai negara kini relatif lebih mahal terhadap rupiah.

Dampaknya terhadap masyarakat

Walau tidak terlalu signifikan, sektor finansial dan produksi di Indonesia terguncang, demikian juga dengan perusahaan yang memiliki hubungan dengan perusahaan di AS atau investor Indonesia yang menanam sahamnya di bursa AS. Angka pengangguran meningkat, karena PHK yang dilakukan beberapa perusahaan dikarenakan pemiliknya perlu melakukan efisiensi untuk menutupi hutang kredit investasinya yang terkena imbas. Di AS sendiri, banyak pekerja yang merupakan warga Asia, termasuk Indonesia. Beberapa minggu yang lalu, sekitar 300 tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sektor manufaktur di Korea mengalami pemecatan dan mereka terpaksa harus pulang ke Indonesia.

Walau angka PHK meningkat, ternyata kolom lowongan kerja di koran-koran masih cukup padat, bursa-bursa kerja juga masih sering diadakan dan dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan yang mencari tenaga kerja baru. Kondisi yang demikian membuat kita sebagai masyarakat harus memiliki kemampuan dan nilai-nilai tambah yang tidak dimiliki kebanyakan orang, agar bisa bersaing dan tetap bertahan di dalam situasi yang sulit sekalipun.

Sampai hari ini, harga pangan mengalami kenaikan, namun tidak signifikan dan masih dapat dikatakan stabil. Pemerintah juga mengeluarkan kebijakan menurunkan harga premium dan solar, sehingga sektor distribusi dapat mengalami efisiensi.

Menurut Bahrul Hayat, Sekjen Departemen Agama RI, banyak kalangan berasumsi jika krisis ini terus berlangsung, akan dapat berpengaruh bagi kehidupan beragama dan kehidupan bangsa di tahun-tahun mendatang. Terjadinya perubahan-perubahan dalam tingkat global seringkali berdampak pada isu-isu penting lainnya, seperti masalah hak asasi manusia, ketahanan dan moral bangsa, terorisme, lingkungan hidup, ketegangan sosial-politik dan budaya, serta demokratisasi, yang pada dasarnya bersumber pada tuntutan untuk mewujudkan hidup yang lebih aman, sejahtera, dan damai.

Pernyataan Hayat adalah bentuk antisipasi dan pencegahan. Saat ini perekonomian negara masih dapat ditangani dengan baik oleh pemerintah, lewat tangan dingin Menteri Keuangan RI sekaligus menteri koordinator perekonomian RI, Sri Mulyani Indrawati.

Krisis ekonomi adalah krisis yang dapat merembet ke sektor kehidupan lainnya dan menimbulkan krisis baru, seperti krisis sosial, krisis budaya, dan krisis politik. Jika diperhatikan lebih dalam, hal ini dikarenakan masyarakat umum menempatkan uang di atas segala-galanya, menjadi tujuan hidup, daripada menjadikannya sebagai penunjang hidup untuk mencapai tujuan yang lebih mulia. Kesesatan berpikir manusia masa akhir dharma membuat manusia terjebak dalam pemahaman hidup yang dangkal.

Bagaimana kita menyikapi ‘krisis’?

Kita tidak perlu gusar mendengar pemberitaan seputar ‘krisis’. Umumnya, mendengar kata ‘krisis’ saja kita sudah langsung panik dan melakukan aksi spontan yang malah akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Pemberitaan mengenai ‘krisis’ harus kita dengarkan dengan seksama dan berbagai sumber referensi. Memperoleh masukkan dari satu sumber berita saja bisa jadi kurang menyeluruh dan kurang faktual.

Salah satu peran aktif yang dapat kita lakukan agar sektor finansial Indonesia dapat tumbuh lebih mantap, adalah dengan melakukan efisiensi konsumsi dan mengutamakan produk dalam negeri, sehingga perputaran rupiah tetap lancar dan dapat meningkatkan nilainya di dalam bursa mata uang. Jangan melakukan usaha-usaha yang spekulatif dan manipulatif, harus senantiasa jujur dan mengembangkan pola hidup yang hemat.

Segala kesulitan, permasalahan, dan krisis macam apa pun adalah bagian dari proses sebab-akibat kejiwaan. Krisis yang terjadi di lingkungan, di tingkat nasional maupun global misalnya, pada hakekatnya adalah cerminan dari krisis yang terjadi dalam jiwa diri sendiri (shoho jisso). Krisis harus dihadapi dengan bijaksana dan diatasi dengan pikiran yang jernih dan positif. Jangan membiarkan pikiran kita dikuasai oleh kesesatan tiga racun (keserakahan, kemarahan, dan kebodohan) yang secara wajar memang ada di dalam diri sendiri.

Kita sering lupa bahwa kita juga memiliki kesadaran di dalam diri yang dapat dibangkitkan, seperti halnya kesesatan kita. Namun karena telah terbiasa membangkitkan kesesatan, membangkitkan kesadaran membutuhkan kekuatan dan keyakinan yang lebih. Dengan munculnya kesadaran, kesadaran itu harus digunakan atau dijadikan dasar untuk menyelesaikan masalah. Banyak orang menganggap pencapaian kesadaran Buddha adalah hal yang sulit atau tidak menarik, padahal pencapaian kesadaran tidak mustahil dilakukan oleh manusia dan merupakan kondisi yang diperlukan untuk mencapai kebahagiaan sesungguhnya dalam hidup kali ini.

Kita harus senantiasa melaksanakan pertapaan Boddhisatva yang muncul dari bumi, menyebut Nammyohorengekyo—melakukan gongyo dan daimoku dengan setulus hati, meningkatkan kualitas dan kuantitas pelaksanaan hati kepercayaan kita agar sekejap demi sekejap dapat selalu memunculkan jiwa Buddha. Dengan demikian, kita akan dapat melihat sisi baik dari segala peristiwa, menjadikan sisi buruknya sebagai pembelajaran agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Berpedoman pada ‘apa yang bisa kita berikan’ untuk lingkungan, bukan ‘apa yang bisa kita dapatkan dari lingkungan’. Teruslah melakukan usaha nyata untuk bangkit dari krisis. Gongyo dan daimoku tanpa disertai aksi konkret tidak akan menghasilkan perubahan positif dalam hidup.

Hubungan sosial antar manusia dan antara manusia dengan alam yang dibina dengan baik juga merupakan upaya anti-krisis yang mendasar. Sudah tidak jamannya lagi membeda-bedakan manusia berdasarkan ciri fisiknya. Kita harus mengembangkan pikiran yang terbuka dalam bergaul dengan siapapun, dari sukubangsa atau etnis apapun. Yang harus kita lakukan adalah mengembangkan rasa kemanusiaan, empati, dan apresiasi terhadap orang lain serta identitas yang melekat pada diri mereka masing-masing.

Kita juga perlu memiliki pemahaman terhadap budaya lingkungan sehingga dapat lebih mengapresiasi, menjalin hubungan sosial yang baik dengan sesama manusia di dalam bermasyarakat. Momentum globalisasi membuat seluruh dunia seolah-olah menjadi satu desa yang terhubung satu sama lain, ruang dan waktu menjadi semakin tak berarti dengan kemajuan teknologi.

Hal ini menuntut kita sebagai warga dunia untuk memiliki pemikiran yang terbuka dalam menjalin hubungan dengan manusia dari berbagai latar belakang budaya dengan tetap memegang prinsip ajaran Buddha sebagai landasan berpikir untuk menuntun kita berperilaku sebagai manusia yang unggul. Secara tidak langsung kita juga berkesempatan untuk melakukan penyebarluasan dharma (shakubuku). §

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s